Berita Terbaru :
Tampilkan postingan dengan label KULIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KULIAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2014

VARIASI MENGAJAR

Proses Pembelajaran Ketika KKN PPL di SMPN 4 Pancarijang
Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang di gunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk.
A. Tujuan Variasi Mengajar
Penggunaan variasi terutama di tujukan terhadap perhatian siswa, motivasi, dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimaksud adalah :
1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevasi Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang di berikan sangat dituntut. Sedikit pun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru , karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yabg di berikan guru.
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai faktor memang mempengaruhinya. Misalnya faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi di luar kelas yang di rasakan siswa lebih menrik daripada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi pelajaran yang di berikan guru.

Minggu, 02 Maret 2014

Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar
Belajar dan mengajar sebagai aktivitas utama di sekolah meliputi tiga unsur, yaitu tujuan pengajaran, pengalaman belajar mengajar dan hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai siswa setelah mengalami proses belajar dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, hal ini berdasarkan pendapat Sudjana (2006:33) bahwa “hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.

Arikunto (2001:7) mengemukakan bahwa “hasil belajar merupakan penilaian yang bertujuan untuk melihat kemajuan peserta didik dalam menguasai yang telah dipelajari dan ditetapkan”. Selanjutnya Hamalik (2001:53) mengemukakan “hasil belajar tampak sebagai perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan”.

Jumat, 24 Mei 2013

MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN



a.Multimedia
Ketika mendengar kata Multimedia, orang pasti akan membayangkan sesuatu yang dahsyat dan hebat, sesuatu yang berkaitan dengan komputer, dengan gambar diam atau bergerak, dengan suara yang bagus dan kaya, serta pengguna yang dapat ikut serta interaksi.
Suyatno (Binanto,2010:1) mengatakan bahwa “multimedia menjadi penting karena dapat dipakai sebagai alat persaingan antar perusahaan”. Disamping itu, pada abad ke-21 ini multimedia menjadi suatu keterampilan membaca. Sesungguhnya, multimedia pun mengubah hakikat membaca itu sendiri. Multimedia menjadikan kegiatan membaca itu dinamis dengan memberi dimensi baru pada kata-kata. Menurut Marshall (Binanto, 2010:1), berpendapat bahwa :
Sistem multimedia mempunyai 4 karakteristik dasar, yaitu (a) merupakan sistem yang dikontrol oleh komputer, (b) merupakan sebuah sistem yang terintegrasi (c) informasi yang ditangani direprentasikan secara digital, dan (d) antarmuka pada multimedia tampilan akhir biasanya bersifat interkatif.

Berdasarkan pendapat diatas pembuatan multimedia memang tidak mudah karena membutuhkan keahlian berkreasi, keahlian berkarya seni, alat bantu berteknologi tinggi, dan kemampuan dalam berorganisasi dan berbisnis. Selain komputer, alat bantu yang digunakan adalah perangkat lunak authoring.
b.Definisi Multimedia
Menurut Vaugan (Binanto, 2010:2), “multimedia merupakan kombinasi teks, seni, suara, gambar, animasi dan video yang disampaikan dengan komputer atau dimanipulasi secara digital dan dapat disampaikan dan/atau dikontrol secara interktif”. Selanjutnya Binanto (2010:3) menyatakan “ ada tiga jenis multimedia, yaitu (a) multimedia interaktif, (b) Multimedia hiperaktif, dan (c) multimedia linear”. Pendapat tersebut apabila diuraikan adalah sebagai berikut :
Multimedia Interktif
Pengguna dapat mengontrol apa dan kapan elemen-elemen multimedia akan dikirimkan atau ditampilkan.
Multimedia hiperaktif
Multimedia jenis ini mempunyai struktur dari elemen-elemen terkait dengan pengguna yang dapat mengarahkannya. Dapat dikatakan bahwa multimedia jenis ini mempunyai banyak tautan (link) yang menghubungkan elemen-elemen multimedia yang ada.
Multimedia Linear
Pengguna hanya menjadi penonton dan menikmati produk multimedia yang disajikan dari awal hingga akhir.

MEDIA PEMBELAJARAN


a. Pengertian
Media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya. Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium  yang secara harafiah berarti pengantar atau perantara. Sehingga Sadiman (2007:6) menyatakan bahwa “media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan”.
Secara umum pengertian media menurut Hamalik (1995:10) "media adalah suatu alat bantu yang dapat digunakan oleh suatu organisasi untuk mencapai efisensi dan efektivitas kerja dengan hasil yang maksimal". Lebih lanjut dikemukakan Hamalik (1995:12) "media adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan murid dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah".
Pendapat di atas menekankan media sebagai alat bantu dalam mengefektifkan kegiatan pembelajaran. Hal senada dikemukakan Sadiman (1990:6) "media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi". Sementara Djamarah (2002:37) mengemukakan "media adalah perantara atau pengantar".
Berdasarkan pendapat di atas, dapat diperoleh suatu pengertian tentang media sebagai suatu bentuk perantara yang dipakai orang dalam menyebar ide atau gagasan, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima yang pada akhirnya akan memperluas kemampuan manusia untuk merasakan, mendengar atau melihat dalam batas-batas jarak, ruang dan waktu yang hampir tak terbatas lagi yang digunakan dalam pembelajaran sehingga dinamakan media pembelajaran. Sadiman (1996: 6) mengemukakan:
"Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, kurikulum dan minat serta perhatian murid sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi".
Lain halnya Miarso (Rohman, 2009:179) memandang “media secara luas/makro dalam sistem pendidikan sehingga mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar pada diri peserta didik”.
Mengacu pada pendapat di atas, maka media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan berupa materi pelajaran dari sumber kepada penerima dalam kegiatan pembelajaran sehingga terjadi kegiatan komunikasi secara timbal balik yang dapat merubah pola pikir ke arah perilaku indikator dan hasil belajar yang dikehendaki oleh kurikulum atau tuntutan materi pelajaran.
b. Manfaat Media Pembelajaran
Peranan media pembelajaran sangatlah penting dalam kegiatan belajar-mengajar. Sangatlah sulit materi pelajaran tersampaikan dengan baik tanpa melalui media pembelajaran yang tepat. Secara umum Hamalik (Sadiman, 2006:17)  menyatakan :
Manfaat media pembelajaran adalah (a) berfikir konkret, (b) memperbesar perhatian siswa, (c) dasar perkembangan belajar, (d) memberikan pengalaman nyata, (e) mengarahkan siswa, (f) menumbuhkan kemampuan berbahasa, (g) menumbuhkan motivasi belajar.
Berdasarkan pendapat di atas, media merupakan salah satu faktor penting dalam pembelajaran. Adapun secara rinci manfaat media yaitu :
a. Berfikir konkret yaitu meletakkan dasar-dasar pemikiran yang nyata dan mengurangi verbalisme;
b. Memperbesar perhatian siswa yaitu dengan adanya media siswa lebih berkonsentrasi pada pembelajaran dan siswa lebih focus dalam belajar; 
c. Dasar perkembangan belajar yaitu meletakkan dasar-dasar penting untuk perkembangan belajar, membuat pelajaran lebih berkesan, sehingga siswa lebih mengerti materi pelajaran; 
d. Memberikan pengalaman nyata yaitu dapat menumbuhkan kegiatan berusaha dikalangan siswa, karena dengan penggunaan media pembelajaran siswa juga bisa turut berpartisipasi dalam mencari materi yang diberikan;
e. Mengarahkan siswa yaitu menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu, terutama dalam gambar hidup;
f. Menumbuhkan kemampuan berbahsa yaitu dengan penggunaan dapat membantu tumbuhnya pengertian atau perkembangan kemampuan berbahasa;
g. Menumbuhkan motivasi belajar yaitu dengan penggunaan media pembelajaran siswa mendapatkan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lisan serta membantu berkembangnya efesiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
Demikian banyak bentuk dan macam media pembelajaran, akan tetapi yang terpenting adalah pemilihan bentuk dan macam media pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, ketersediaan sarana dan prasarana di tempat terjadinya proses pembelajaran.
Secara terinci Sadharta (Rohman, 2009:178) menyatakan bahwa “terdapat sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang dirumuskan dalam satu kata “ACTION”, akronim dari access, cost, technology, interactivity, organization dan novelty”. Adapun uraian dari kata “ACTION” adalah sebagai berikut :
a. Access
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan oleh siswa?.
b. Cost
Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak media yang canggih biasanya mahal, kita harus mempertimbangkan aspek manfaatnya media tersebut.
c. Technology
Mungkin kita tertarik pada suatu media tertentu, kita harus memperhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya?.
d. Interactivity
Media yang kita kembangkan hendaknya dapat memunculkan komunikasi dua arah antara guru dengan siswa.
e. Organization
Perlu dipertimbangkan apakah pimpinan sekolah atau pimpinan lembaga atau yayasan mendukung?.
f. Novelty
Biasanya media yang baru lebih menarik bagi siswa sehingga kebaruan suatu media hendaknya juga menjadi
pertimbangan pemilihan suatu media.
Selanjutnya Sadiman (2006:83) menyatakan “pemilihan media pembelajaran harus melihat komponen perencanaan pembelajaran yaitu (a) tujuan, (b) materi pelajaran, (c) metode, (d) evaluasi dan (f) siswa”. Hal ini apabila diuraikan dalam pemilihan media yaitu sebagai berikut :
a. Tujuan
Media pembelajaran hendaknya sesuai dan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
b. Materi pembelajaran
Materi yang dipilih hendaknya relevan dan tidak out of date.
c. Metode atau pendekatan
Sebagai contoh : Pemilihan media demonstrasi akan lebih banyak memerlukan media daripada metode
ceramah.
d. Evaluasi
Sebetulnya evaluasi mengukur keberhasilan tujuan. Oleh karena itu media yang dipilih selain mengacu pada  tujuan terkait juga pada evaluasi yang digunakan.
e. Siswa
Pemilihan media pembelajaran perlu disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa, yaitu disesuaikan
dengan kemampuan siswa dalam hal membaca, mendengar dan melihat.
Berdasarkan di atas seluruh kegiatan pembelajaran diserahkan sepenuhnya kepada guru yang bertugas
mengelola proses pembelajaran di sekolah untuk senantiasa dapat menggunakan media pembelajaran dalam usahanya menjadi guru profesional.
Kegiatan pembelajaran di kelas merupakan inti dalam rangkaian pembelajaran mengingat pembelajaran memiliki tahapan-tahapan, yaitu: pra instruksional, kegiatan instruksional, kegiatan evaluasi dan tindak lanjut. Dalam proses pembelajaran, maka pada dasarnya merupakan suatu proses komunikasi di mana komunikasi baru akan terjadi bila ada sumber yang memberi pesan, dan ada penerima pesan. Agar pesan yang disampaikan oleh sumber pesan atau pemberi pesan tadi bisa tiba pada penerima pesan, maka dibutuhkan adanya wadah yang disebut media.
Media ini juga biasa disebut saluran (channel). Biasanya dalam suatu proses komunikasi, walaupun pesan atau informasi sudah diberikan oleh sumber dan ditujukan kepada penerima melalui media, akan tetapi bila tidak ada umpan balik, maka proses komunikasi itu tidak sempurna. Hal ini disebabkan karena bila tidak ada umpan balik, maka pemberi pesan tidak mengetahui apakah isi pesannya itu diterima atau tidak, apalagi untuk mengerti dan mengetahui isi pesan.
Miarso (Roestiyah, 2008:27) mengemukakan fungsi media pembelajaran sebagai berikut :
Fungsi media pembelajaran adalah (a) membuat konkrit konsep yang abstrak, (b) membawa obyek yang berbahaya atau sukar di dapat dalam lingkungan belajar, (c) menampilkan obyek yang terlalu besar, (d) menampilan obyek yang tidak dapat diamati, (e) mengamati gerakan yang terlalu cepat, (f) memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan, (g) memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa, (h) membangkitkan motivasi belajar, (i) memberi kesan individual untuk seluruh anggota kelompok, (j) menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu dan ruang dan (k) mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas bahwa media memiliki fungsi yang sangat luas dan penting, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan, yaitu digunakan guru dalam proses pembelajaran, walaupun dalam pengadaan dan pemanfaatannya senantiasa masih menghadapi berbagai kendala.
Perkembangan ICT juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Mayer (2009:15) “komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran”. Para siswa akan menikmati kerja computer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antar teks, gambar (foto), film (video), animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.
Sementara ini Bower dan Hilgard (Mayer, 2009:23) “berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama”. Selanjutnya, menurut Woolfok (Mayer, 2009:24) ada sembilan keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran, sebagai berikut :
Keuntungan menggunakan komputer yaitu (a) siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya, (b) dapat melatih dengan sabar, (c) dapat dipakai untuk belajar sendiri, (d) dapat disajikan berbagai macam penginderaan, (e) dapat melakukan simulasi, (f) dapat dikembangkan pemecahan masalah, (g) dapat memberikan pujian untuk memperkuat prilaku dan (h) dapat membantu manajemen kelas dan sekolah.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis komputer sangat berpengaruh dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti membuat media pembelajaran multimedia berupa animasi bumi dalam mata pelajaran geografi yang disebut juga digital globe. Dengan menggunakan media pembelajaran ini diharapkan : (1) Guru dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan baik, sedangkan siswa dapat memahami materi dengan mudah, (2) Mengantisipasi kegagalan berkomunikasi, (3) Menciptakan atau memotivasi siswa untuk belajar, (4) menggugah perhatian siswa, dan (5) Agar materi yang disampaikan dari kelas yang satu ke kelas yang lain dapat mendekati sama atau minimal sama.    
Berdasarkan pendapat di atas, betapa pentingnya sebuah media pembelajaran dalam menunjang proses pembelajaran. Kedudukan komponen media pembelajaran dalam sistem proses belajar mengajar mempunyai fungsi yang sangat penting. Sebab, tidak semua pengalaman belajar dapat diperoleh secara langsung. Dalam keadaan ini media dapat digunakan agar lebih memberikan pengetahuan yang konkret dan tepat serta mudah dipahami.

Kamis, 23 Mei 2013

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF


1. Pengertian Model Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen-komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode dan evaluasi. Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Model-model pembelajaran biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori sebagai pijakan dalam pengembangannya. Joyce & weil (Rusman, 2010:132) mengemukakan bahwa “para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologi, sosiologi, analisis sistem, atau teori-teori lain yang mendukung”. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya guru boleh memilih model pembelajaran yang efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  Joyce, (Trianto 2007:5) Mengemukakan bahwa :
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer,kurikulum dan lain-lain.

Setiap model pembelajaran mengarahkan ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu siswa sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Istilah model pembelajaran mempunyai makna lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur.
Model Pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, dan prosedur. Kardi dan Nur (Trianto 2007:6) mengemukakan ciri-ciri tersebut adalah :
1. rasional teoritik logis yang disusun oleh pencipta atau   pengembangnya
2. landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar ( tujuan pembelajaran yang akan dibalas )
3. tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, dan
4. lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai


Berdasarkan pendapat tersebut, dikemukakan bahwa ciri dari model pembelajaran semuanya disusun dan dikembangkan hanya dari pencipta model tersebut. Ciri-ciri khusus model pembelajaran dijadikan pedoman oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dicanangkannya.

2. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Isjoni (2009:14) mengemukakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis”. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Pada pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Pada dasarnya, proses pembelajaran yang terjadi melibatkan siswa dari latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari warna kulit, agama bahkan dari tingkat kemampuan berpikir dan gaya belajar mereka. Untuk itu seorang guru harus pandai melihat perbedaan-perbedaan karakterisitik di setiap melakukan proses belajar mengajar. Johson, dkk (Miftahul Huda 2011:13) mengemukakan bahwa “Pengalaman pembelajaran kooperatif ternyata lebih diminati oleh siswa-siswa yang heterogen, siswa-siswa yang berasal dari kelompok etnik yang berbeda, baik yang cacat maupun noncacat”. Sedangkan Iskandar (2009:126) mengemukakan bahwa “pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan”.
 Model pembelajaran kooperatif sangat membantu tugas dari seorang guru dalam menyampaikan materi yang akan dibawakan karena pembelajaran kooperatif mengharuskan melakukan interaksi antar teman sejawatnya untuk melakukan atau menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Secara historis pembelajaran kooperatif bermula dari paham konstruktivisme dimana siswa saling membantu dari awal untuk menemukan hingga memahami setiap materi-materi yang diberikan oleh guru.
Slavin (Iskandar 2009:126) mengemukakan bahwa :
Pembelajaran konstruktivis dalam pengajaran menerapkan model pembelajaran kooperatif secara ekstensif atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep–konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan konsep - konsep tersebut.

Pembelajaran kooperatif dapat menguntungkan bagi siswa yang tingkat kemampuan rendah ataupun berprestasi rendah begitupun yang tingkat kemampuan tinggi atau berprestasi tinggi yang mengerjakan tugas akedemik bersama-sama. Mereka atau siswa yang berprestasi tinggi mengajari teman-temannya yang berprestasi yang lebih rendah, sehingga memberikan bantuan khusus dari sesama teman yang memiliki minat dan bahasa berorientasi kaum muda yang sama. Dalam prosesnya, mereka yang berprestasi lebih tinggi juga memperoleh hasil secara akademik karena bertindak sebagai tutor menuntut untuk berpikir lebih mendalam tentang hubungan di antara berbagai ide dalam subjek tertentu.
a. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Adalah benar bahwa dalam setiap model pembelajaran mempunyai karakteristik tersendiri yang membedakannya. Menurut Lundgren (Isjoni,2009:16) unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1) pebelajar dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka   "sehidup sepenanggungan; 2) pebelajar memiliki tanggung jawab terhadap pebelajar lainnya dalam kelompok, di samping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi ; 3) pebelajar haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama ; 4) pebelajar haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya; 5) pebelajar akan diberikan evaluasi atau penghargaan. yang akan berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok ; 6) pebelajar berbagi kepernimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya ; 7) pebelajar akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani di dalam kelompoknya.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikemukakan bahwa ciri ciri atau karakteristik dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1) kelompok dibentuk dari pebelajar yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah,
2) jika memungkinkan, setiap anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda,
3) pebelajar belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi,
4) penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.

b. Fase Model Pembelajaran Kooperatif
Fase pertama dalam pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya 6 (enam) fase. Pelajaran diawali dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran disertai dengan memberikan motivasi kepada siswa. Pada Fase ini diikuti dengan penyampaian informasi, biasanya dalam bentuk materi (materi bacaan), selanjutnya siswa dikelompokkan dalam tim belajar. Pada fase ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka.
Fase terakhir dalam model pembelajaran kooperatif adalah mempresentasikan hasil dari kerja kelompok atau evaluasi tentang materi yang telah dipelajari dan guru memberikan penghargaan terhadap usaha yang telah dilakukan oleh kelompok ataupun individu (Arnidah:2009). Kegiatan guru terhadap enam (6) fase  tersebut dapat diliihat pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase Kegiatan pembelajar
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi pebelajar Pembelajar menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi pebelajar belajar
Fase 2
Menyajikan informasi Pembelajar menyajikan informasi kepada pebelajar baik dengan peragaan atau teks
Fase 3
Mengorganisasikan pebelajar ke dalam kelompok-kelompok belajar Pembelajar menjelaskan kepada pebelajar bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan yang efisien
Fase 4
Membantu kerja kelompok dalam belajar Pembelajar membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
Fase 5
Mengetes materi Pembelajar memberi tes materi pelajaran, atau kelompok menyajikan hasil-hasil pekerjaan mereka
Fase 6
Memberikan penghargaan Pembelajar memberikan cara-cara untuk menghargai baik penghargaan atas tingginya upaya kerjasama dalam proses belajar kelompok, maupun hasil belajar individu dan kelompok

Satu aspek penting pembelajaran kooperatif ialah bahwa di samping membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik di antara siswa, juga membantu siswa dalam pembelajaran akademis. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar individual atau kompetitif.
c. Perbedaan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran konvensional
Pembelajaran kooperatif dibuat untuk meningkatkan usaha partisipasi antar siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dalam sebuah kelompok dan memberikan kesempatan siswa berinteraksi sesama siswa yang berbeda suku, agama atau ras sekalipun. Dalam pembelajaran konvensional dikenal juga dengan adanya kelompok. Meskipun demikian, ada sejumlah perbedaan mendasar antar kelompok belajar kooperatif dengan belajar konvensional.
Menurut Abdulrrahman dan Bintaro, (Nurhinda Bakkidu 2010:158) bahwa perbedaan belajar kooperatif dengan belajar konvensional.
Tabel 2.2 Perbedaan pembelajaran kooperatif dengan konvensional
Kelompok belajar kooperatif Kelompok belajar konvensional
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif. Guru sering memberikan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga saling dapat mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering didorong oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok lainnya hanya “enak-enak saja” di atas keberhasilan temannya yang dianggap “pemborong”
Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Kelompok belajar biasanya homogen
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guruatau kelompok dibiarkan memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing
Keteramilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan, berkomunikasi, mempercayai orang lain dan mengelola konflik secara langsung diajarkan. Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan
Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung
Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar
Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai) Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pengembangan dari pembelajaran konvensional. Pengembangan itu terlihat dari peran guru ketika berada dalam proses belajar mengajar. Perbedaan itu hanya terletak dari seorang guru dalam membawakan suatu model pembelajaran.
Perbedaan itu dapat dilihat dari kolom pertama pada tabel 2.2, berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan kurangnya peran dari seorang guru ketika guru melakukan atau membagi kelompok dalam proses pembelajaran. Secara konvensional, guru memberikan keleluasan pada satu siswa untuk mendominasi setiap kelompok. Namun, secara kooperatif, peran guru sangat diharapkan dalam pembagian kelompok.

Selasa, 16 April 2013

MASALAH ILMU PENGETAHUAN



MASALAH ILMU PENGETAHUAN
A.      ARTI ILMU PENGETAHUAN
Dalam “ilmu pengetahuan” terdapat 2 kata yaitu “ilmu” dan “pengetahuan”. Keduanya memiliki arti tersendiri dan berbeda atau biasa disebut “science dan knowledge”. Knowledge (pengetahuan) mempunyai cakupan lebih luas dan umum sedangkan science(ilmu) mempunyai cakupan yang lebih sempit dan khusus dalam arti metodis, sistematis, dan ilmiah.
Dari beberapa pengertian tersebut, nama yang lebih tepat “ilmu pengetahuan” daripada “ilmu”. Jika dipilih sebagai nama, dikhawatirkan bisa terjebaj pada batasan-batasan yang bersifat fisis, khusus, konkret, parsial dan karena itu praktis, pragmatis dan positivistis. Padahal realitas sebagai objek yang harus diketahui adalah tidak hanya terbatas pada hal-hal yang demikian itu. Disamping batasan fisis, realitas juga terkandung di dalamnya sisi-sisi yang non-fisis, spiritus dan kualitatif. Kecuali itu, di dalam diri relitas (objek) terkandung dua bagian yaitu :
a.       Yang fisis, yang dapat dikenal melalui penginderaan dan logika
b.      Yang spiritual, yang hanya bisa dikenal melalui daya-daya intuisi dan supra rasional
Dibalik istilah “ilmu pengetahuan” terkandung dua hal yang sama pentingnya bagi hidup dan kehidupan manusia. Ilmu membentuk daya intelegensia yang melahirkan adanya skill atau keterampilan, yang bisa mengkonsumsi masalah-masalah atau kebutuhan keseharian (termasuk tujuan langsung). Sedangkan pengetahuan membentuk daya moralitas keilmuan, yang kemudian melahirkan tingkah laku dan perbuatan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tercakup di dalam tujuan akhir kehidupan manusia. Dengan nama ilmu pengetahuan diharapkan dapat membuka pandangan dan wawasan yang luas, dalam arti tidak terbatas hanya kepada objek-objek yang ada diluar diri manusia yaitu kenyataan objektif, atau hal-hal yang bersifat empiric dan positif saja. Sehingga dengan demikian dapat diharapkan terbentuk suatu kesadaran dan sikap ilmiah(science attitude).
Ada beberapa point yang bersama-sama menentukan bagi adanya ilmu pengetahuan yaitu adanya objek, metode, sistem, dan kebenaran.
B.      OBJEK ILMU PENGETAHUAN
Terlebih dahulu kita harus memahami pengertian objek itu sendiri. Objek adalah sasaran pokok atau tujuan penyelidikan keilmuan. Pada umumnya persoalan mengenai objek, dikenal ada dua jenis yaitu objek materi dan objek forma.
Objek materi adalah sasaran pokok penyelidikan berupa materi atau materi yang dihadirkan dalam suatu pemikiran atau penelitian. Suatu objek materi baik yang non material sebenarnya merupakan suatu substansi yang tidak begitu mudah untuk diketahui. Karena didalamnya terkandung segi-segi yang secara kualitatif bertingkat-tingkat dari yang konkret sampai ke tingkat abstrak. Dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar dan pasti mengenai suatu objek, dengan memepertimbangkan keterbatasan kemampuan akal pikiran manusia, maka perlu dilakukan pembatasan-pembatasan. Selanjutnya deskripsi tentang objek forma inilah yang kemudian akan menjelaskan pentingnya arti, posisi dan fungsi objek di dalam ilmu pengetahuan. Dengan penentuan suatu objek forma, maka kajian ilmu pengetahuan mengenai objek materinya menjadi berjenis, bersifat dan berebentuk khusus, jelas dan konkret (real). Ilmu pengetahuan menurut objek formanya cenderung berbeda-beda dan berjenis-jenis, bentuk dan sifatnya. Ada yang karena kajian materinya berupa hal-hal yang fisis kebendaan dan ditinjau dari segi pandang (view point) yang kuantitatif, maka lalu tergolong ke dalam ilmu pengetahuan fisika atau yang sering dikenal sebagai ilmu pengetahuan alam. Objek forma mempunyai kedudukan dan peranan yang mutlak menentukan suatu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan.
C.      METODE ILMU PENGETAHUAN
Metode adalah cara-cara penyelidikan bersifat keilmuan, yang sering disebut metode ilmiah (science methods). Metode ini perlu, agar tujuan keilmuan yang berupa kebenaran objektif dan dapat dibuktikan bisa tercapai. Dengan metode ilmiah, kedudukan pengetahuan berubah menjadi ilmu pengtahuan, menjadi lebih khusus dan dan terbatas lingupan studinya.
Untuk lebih jelasnya metode adalah suatu proses atau prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik ilmiah, yang dipakai oleh suatu disiplin untuk mencapai suatu tujuan. Jadi dapat dikatakan sebagai cara kerja ilmiah. Sedangkan metodologi adalah pengkajian mengenai model atau bentuk metode-metode, aturan-aturan yang harus di pakai dalam kegiatan ilmu pengetahuan. Jika dibandingkan antara metode dan metodologi, maka metodologi lebih bersifat umum dan metode lebih bersifat khusus. Metode ilmiah yang dipergunakan mempunyai latar belakang yaitu pengetahuan. Adapun keterkaitannya yaitu bersifat kausalistik, yaitu bahwa jenis, bentuk dan sifat ruang lingkup dan tujuan penyelidikan menentukan jenis, bentuk dan sifat metode.
Dengan adanya latar belakang yang demikian itu, maka metode ilmiah juga cenderung bermacam-macam, tergantung kepada watak bahan atau problem yang diselidiki. Diantara beberapa jenis metode, metode observasi adalah yang paling sedikit dipakai oleh jenis ilmu pengetahuan apapun. Observasi, tentu saja yang dimaksud adalah yang bersifat ilmiah. Sehubungan Dengan metode observasi, pengamatan yang tepat dan objektif adalah mutlak dalm ilmu pengetahuan.
Selanjutnya mengenai metode trial and error. Metode ini sering dipakai sebagai dasar penyusunan hipotesis. Karena sifatnya yang universal, metode ini kurang dipergunakan secara populer oleh para ilmuan dalam kegiatan penelitian.
Agar  pengamatan menjadi semakin teliti dan menjamin kebutuhan akan objektivitas, maka metode eksperimen berperan penting. Metode ini sering dipakai dalam sains. Misalnya untuk meningkatkan produksi daging, mengganti factor makanan jenis lain sementara factor-faktor lain dibiarkan tetap. Metode statistik, dewasa ini lazim dipergunakan di dalam ilmu pengetahuan pada umumnya. Dengan metode statistik, akan memperkuat daya prediksi, bisa menjelaskan sebab akibat terjadinya sesuatu, dapat menggambarkan suatu caontoh fenomena dan sebagainya.
Dalam metode sampling, hal yang penting didalamnya adalah bagaimana menentukan suatu contoh yang tepat, sehingga dapat mewakili keseluruhan. Persoalannya adalah pada objek yang sifatnya homogeny rupanya sampel dipilih secara acak pun (random) cukup memberikan akurasi hasil. Tetapi pada objek yang heterogen, maka peneliti harus hati-hati.
Metode ilmiah juga memiliki keterbatasan yaitu pada hal-hal yang empirik (dapat dialami) inderawi, karena itu hanya berlaku pada bidang-bidang yang fisis dan kuantitatif saja. Masalah keterbatasan metode ilmiah yang demikian itu adalah wajar, sebagai konsekuensi logis dari sudut pandang (objek forma), ruang lingkup dan tujuan ilmu pengetahuan.

PENGEMBANGAN MANAJEMEN PEMBELAJARAN


 
A.   Pengembangan manajemen pembelajaran
Selama ini, berbagai macam pengembangan dan pelatihan telah dilakukan dalam rangka peningkatan mutu dalam hal kegiatan belajar mengajar. Akan tetapi perlu diingat bahwa diperlukan pengelolaan sekolah yang baik untuk mendukung pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar di suatu sekolah. Pelatihan ini dirancang sebagai sarana pengembangan pengetahuan dan kemampuan manajerial bagi para guru dan pengelola sekolah. Diharapkan sekolah dapat mengoptimalkan sumberdaya internal untuk mendukung kelancaran pelaksanaanmanajemen.

      Pelatihan ini juga memberikan kesempatan bagi para guru terutama pengelola sekolah untuk mengetahui berbagai strategi yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di masing-masing sekolah. Strategi yang akan dibahas mencakup meningkatkan partisipasi orangtua, komite sekolah, masyarakat dalam rangka pengembangan pendidikan dan mengembangkan program kemitraan dengan pemerintah dan instansi lain yang relevan dalam rangka pemberdayaan sumber-sumber untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Diharapkan pelatihan ini akan menumbuhkan kemandirian, motivasi dan inisiatif guru dan pengelola sekolah dalam rangka efisiensi penyelenggaraan pendidikan di masing-masing sekolahnya.

  1. Pengimplementasian pengembangan pembelajaran
Praktek manajemen menunjukkan bahwa fungsi atau kegiatan manajemen seperti planing, organizing, actuating, dan controling secara langsung atau tidak langsung selalu bersangkutan dengan unsure manusia, planning dalam manajemen adalah ciptaan manusia, organizing selain mengatur unsure manusia, actuating adalah proses menggerakkan manusia-manusia anggota organisasi, sedang controlling diadakan agar pelaksanaan manajemen (manusia-manusia)selalu dapat meningkatkan hasilnya. Dari fakta di atas dapatlah dibenarkan bahwa pendapat yang menyatakan sukses tidaknya suatu organisasi untuk bagian yang besar tergantung kepada orang-orang yang menjadi anggotanya. Betapa pun sempurnanya rencana-rencana, organisasi dan pengawasan penelitiannya, bila orang-orang tidak mau melekukan pekerjaan yang diwajibkan atau bila mereka tidak dapat menjalankan tugas yang diwajibkan kepadanya tidak akan diperoleh hasil yang sesuai atau optimal.

C.     Pengertian Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah
Dalam pengimplementasian konsep ini, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya berkaitan dengan permasalahan administrasi, keuangan dan fungsi setiap personel sekolah di dalam kerangka arah dan kebijakan yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Bersama - sama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah harus membuat keputusan, mengatur skala prioritas disamping harus menyediakan lingkungan kerja yang lebih profesional bagi guru, dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keyakinan masyarakat tentang sekolah/pendidikan. Kepala sekolah harus tampil sebagai koordinator dari sejumlah orang yang mewakili berbagai kelompok yang berbeda di dalam masyarakat sekolah dan secara profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total dengan menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah itu sendiri maupun sekolah lain. Ada empat hal yang terkait dengan prinsip - prinsip pengelolaan kualitas total yaitu; (i) perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus - menerus mengumandangkan peningkatan mutu, (ii) kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah, (iii) prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, (iv) sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional. Sistem kompetisi tersebut akan mendorong sekolah untuk terus meningkatkan diri, sedangkan penghargaan akan dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri setiap personel sekolah, khususnya siswa. Jadi sekolah harus mengontrol semua semberdaya termasuk sumber daya manusia yang ada, dan lebih lanjut harus menggunakan secara lebih efisien sumber daya tersebut untuk hal - hal yang bermanfaat bagi peningkatan mutu khususnya. Sementara itu, kebijakan makro yang dirumuskan oleh pemerintah atau otoritas pendidikan lainnya masih diperlukan dalam rangka menjamin tujuan - tujuan yang bersifat nasional dan akuntabilitas yang berlingkup nasional.

  1. Kerangka kerja dalam manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
a.      Sumber daya; sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat.
b.      Pertanggung-jawaban (accountability); sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat.
c.       Kurikulum; berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional, sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya.
d.      Personil sekolah; sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan staf lainnya).











Sabtu, 13 April 2013

KEBUDAYAAN ISLAM



A.     DEFINISI KEBUDAYAAN ISLAM
Al Qur’an merupakan kebudayaan itu sebagai suatu proses dan meletakkan kebudayaan sebagai eksistensi hidup manusia. Kebudayaan merupakan suatu totalitas kegiatan manusia yang meliputi kegiatan akal hati dan tubuh yang menyatu dalam suatu perbuatan. Karena itu secara umum kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil olah akal, budi, cipta rasa, karsa, dan karya manusia.  Ia tidak mungkin terlepas dari bilai-nilai kemanusiaan, namun bisa jadi lepas dari nilai-nilai ketuhanan.
Kebudayaan islam adalah hasil olah, akal, budi, cipta, rasa, karsa, dan karya manusia berladaskan pada nilai-nilai tauhid. Islam sangat menghargai akal untuk terseleksi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal berkembang menjadi sebuah peradaban.
Kebudayaan Islam merupakan suatu sistem yang memiliki sifat-sifat ideal,sempurna, praktis,aktual, diakui keberadaannya dan senantiasa diekspresikan. Sistem yang ideal berdasarkan pada hal-hal yang biasa terjadi dan berkaitandengan yang aktual (Picktchall, 1993: 26-29). Sistem Islam menerapkan dan menjanjikan perdamaian dan stabilitas dimanapun manusia berada, karena pada hakikatnya manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT,yang berbeda justru hanya terletak pada unsur-unsur keimanan dan ketakwaannya saja. Dalam perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada dan aturan-aturan yang bersumber dari nafsu hewani, sehingga akan merugikan diri sendiri. Islam dalam hal ini, bermanfaat untuk memberikan petunjuk kepada manusia dalam upaya agar dapat menumbuhkembangkan akal budi, sehingga memperoleh kebudayaan yang memenuhi aturan-aturan dan norma-norma agama serta menghasilkan yang beradab dan peradaban islam. Perkembangan kebudayaan yang didasari dengan nilai-nilai keagamaan, agama memiliki fungsi yang demikian jelas. Maju dan mundurnya kehidupanumat manusia itu,mengalami kemandegan, hal ini disebabkan adanya hal-halyang terbatas, dalam memecahkan berbagai macam persoalan dalam hidup dankehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu petunjuk berupa wahyu Allah SWT. Allah SWT memilih seorang Nabi dan Rasul dari manusia, sebab yang akanmenjadi bimbingannya adalah manusia juga, oleh karena itu tujuan utama misi Muhammad Rasulullah saw adalah menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Nabi Muhammad saw dalam mengawali tugas kenabian dan kerasulannyamendasarkan diri pada asas-asas kebudayaan Islam, yang selanjutnya tumbuh danberkembang menjadi suatu peradaban yaitu peradaban Islam. Nabi Muhammad saw pada waktu berdakwah, keluar dari jazirah Arab dan seterusnya menyebar keseluruh penjuru dunia, maka terjadilah proses asimilasi berbagai macam kebudayaan dengan nilai-nilai Islam kemudian menghasilkan kebudayaan Islam yang pada akhirnya akan berkembang menjadi suatu kebudayaan yang diyakini kebenarannya secara universal. Islam sebagai suatu agama, secara sungguh-sungguh mendorong manusia untuk berusaha melalui pribadi dan kelompoknya, agar dapat menciptakan suatu keadaan yang lebih baik, sehingga menjadi suatu kekuatan di dunia (Picktchall,1993: 7).
B.     SEJARAH INTELEKTUAL ISLAM
Dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Harun Nasution, dilihat dari segi perkembangan perkembangannya, sejarah intelektual islam dapat dikelompokkan ke dalam tiga masa yaitu masa Klasik, yaitu antara tahun 650-1250 M. Masa pertengahan yaitu tahun 1250-1800 M. Dan masa modern yaitu tahun 1800-sampai sekarang.
-          Pada masa Klasik (650-1250)
Merupakan awal pembabakan peradaban Islam. Periode ini dimulai ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul. Pada masa ini lahir para ulama Madzhab seperti Imam Hambali, Imam Syafii, dan Imam Malik. Sejalan dengan itu lahir pula para filosuf muslim seperti al-kindi tahun 801 M, seorang filosuf muslim pertama. Diantara pemikirannya ia berpendapat bahwa kaum muslimin hendaknya menerima filsafat sebagai bagian bagian dari kebudayaan islam. Selain al-kindi, pada abad itu lahir pula filosuf besar seperti al-Razi, lahir tahun 865 M, al-Farabi lahir tahun 870 M. Dia dikenal sebagai pembangun agung sistem filsafat. Pada abad berikutnya lahir pula filosuf agung Ibnu Miskawaih pada tahun 930 M, pemikirannya yang terkenal tentang pendidikan akhlak kemudian Ibnu Sina tahun 1037 M, Ibnu Bajjah tahun 1138 M, Ibnu Rusyd tahun 1126 M, dan lain-lain.  
-          Pada masa pertengahan (1250-1800)
Pada masa pertengahan, menurut sejarah pemikiran Islam dinilai mengalami kemunduran, sebab filsafat mulai ditinggalkan oleh umat Islam, sehingga terdapat usaha untuk mempertentangkan antara akal dengan wahyu, iman dengan ilmu, dunia dengan akhirat. Pengaruh tersebut masih dapat dirasakan sampai saat ini dan hal ini dibuktikan dengan tidak ada daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Islam yang secara utuh melingkupi beberapa kerajaan Islam, di antaranya Kerajaan Usmani, Safawi dan Mogul dan pada periode pertengahan ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian terbatas.
Sebagian pemikir islam kontenporer sering melontarkan tuduhan kepada al-Gazali yang pertama yang menjauhkan filsafat dengan agama sebagaimana dalam tulisannya “tahafutul falasifah” (kerancuan Filsafat). Tulisan Al- Gazali dijawab oleh Ibnu Rusyd dengan tulisan “tahfutu tahafut” (kerancuan di atas kerancuan).
Ini merupakan awal kemunduran ilmu pengetahuan dan filsafat di dunia islam. Sejalan dengan perdebatan dikalangan filosuf muslim juga terjadi perdebatan diantara fuqaha (ahli fiqih) dengan para ahli teologi (ahli ilmu kalam). Pemikiran yang berkembang saat itu adalah pemikiran dikotomis antara agama dengan ilmu dan urusan dunia dengan akhirat. Titik kulminasinya adalah ketika para ulama sudah mendekat kepada para penguasa pemerintah, sehingga fatwa-fatwa mereka tidak lagi diikuti oleh umatnya dan kondisi umat menjadi carut marut kehilangan fitur pemimpin yang dicintai umatnya.
-          Pada masa Modern (1800-sekarang)
Pada periode modern, umat Islam bangkit kembali, maka periode ini dikatakan sebagai Masa Kebangkitan Islam, dan hal ini ditandai dengan adanyakesadaran umat Islam terhadap kelemahan-kelemahannya, sehingga ada kehendak membangkitkan kembali ilmu pengetahuan dan teknologi; maka kemudian lahirlah para tokoh pembaharu dan para filosof Islam dari berbagai negara Islam di dunia ini (Tim Penulis Ensiklopedi Islam, 1997: 258). Pembaharuan dalam Islam pada prinsipnya merupakan usaha untukmemberi penafsiran kembali terhadap ajaran-ajaran Islam yang sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi perkembangan zaman, sebagai akibat timbulnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk mengajak umat Islam melepaskan diri dari ikatan kejahiliyahan menuju kepada perkembangan dan kemajuan.
C.     NILAI-NILAI ISLAM DALAM BUDAYA INDONESIA
Nabi muhammad saw adalah seorang Rasul Allah dan harus diingat bahwa beliau adalah orang Arab. Dalam kajian budaya sudah barang tentu apa yang ditampilkan dalam perilaku kehidupannya terdapat nilai-nilai budaya lokal. Sedangkan nilai-nilai islam itu bersifat universal. Maka sangat dimungkinkan apa yang dicontoh pleh Nabi dalam hal Mu’amalah ada nuansa-nuansa budaya yang bisa di aktualisasikan dalam kehidupan moderen dan disesuaikan dengan muatan. Contohnya dalam berpakaian cara berpakaian dan cara makan. Dalam ajaran islam sndiri meniru budaya satu kaum boleh-boleh saja sepamjang tidak bertentangan nilai-nilai dasar islam, apalagi yang ditirunya adalah panutan suci Nabi Muhammad saw, namun yang tidak boleh adalah menganggap bahwa nilai-nilai budaya arabnya adalah ajaran islam. Dakwah Islam ke Indonesia lengkap dengan seni dan kebudayaannya, maka Islam tidak lepas dari budaya Arab. Permulaan berkembangnya Islam diIndonesia, dirasakan demikian sulit untuk mengantisipasi adanya perbedaan antara ajaran Islam dengan kebudayaan Arab. Tumbuh kembangnya Islam di Indonesia diolah sedemikian rupa oleh para juru dakwah dengan melalui berbagai macam cara, baik melalui bahasa maupun budaya seperti halnya dilakukan olehpara wali Allah di Pulau Jawa. Para wali Allah tersebut dengan segala kehebatannya dapat menerapkan ajaran dengan melalui bahasa dan budaya daerah setempat, sehingga masyarakat secara tidak sengaja dapat memperoleh nilai-nilai Islam yang pada akhirnya dapat mengemas dan berubah menjadi ada tistiadat di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dan secara langsung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan bangsa Indonesia, misalnya : setiap diadakan upacara-upacara adat banyak menggunakan bahasa Arab (Al Qur’an), yang sudah secara langsung masuk ke dalam bahasa daerah dan Indonesia, hal tersebut tidak disadari bahwa sebenarnya yang dilaksanakan tidaklain adalah ajaran-ajaran Islam (Diskusi Kelompok Lokakarya MPK UGM, 2003:39). Ajaran-ajaran Islam yang bersifat komprehensif dan menyeluruh juga dapat disaksikan dalam hal melaksanakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal yang pada awalnya sebenarnya dirayakan secara bersama dan serentak oleh seluruh umat Islam dimanapun mereka berada, namun yang kemudian berkembang di Indonesia bahwa segenap lapisan masyarakat tanpa pandang bulu dengan tidak memandang agama dan keyakinannya secara bersama-sama mengadakan syawalan (halal bil halal) selama satu bulan penuh dalam bulan syawal, hal inilah yang pada hakikatnya berasal dari nilai-nilai ajaran Islam, yaitu mewujudkan ikatan tali persaudaraan di antara sesama handai tolan dengan cara saling bersilaturahmi satu sama lain, sehingga dapat terjalin suasana akrab dalam keluarga. Berkaitan dengan nilai-nilai Islam dalam kebudayaan Indonesia yang lain,juga dapat dikemukakan yaitu sesuai dengan perkembangan zaman terutama ciri dan corak bangunan masjid di Indonesia yang juga mengalami tumbuh kembang, baik terdiri dari masjid-masjid tua maupun yang baru dibangun.
Perlu juga kita ketahui bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa  Setiap suku bangsa mempunyai kebudayaan tersendiri. Sehingga dalam penyatuan ke dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu menumbuhkan dua macam system kebudayaan yang sama-sama dikembangkan, yakni sistem budaya nasional dan sistem budaya daerah. System budaya nasional adalah sesuatu yang masih baru dan dalam proses pembentukan persatuan nasional di Indonesia. System budaya nasional berkaitan dengan factor-faktor : kepercayaan dan nilai agama, ilmu pengetahuan, kedaulatan rakyat, serta toleransi dan empati.
Sedangkan budaya daerah adalah budaya yang tercipta dan berkembang di masyarakat suku bangsa. Nilai-nilai dalam budaya daerah telah mengakar kuat dalam masyarakat suku bangsa.
Dalam perkembangan budaya nasional, budaya daerah dijadikan sumber bagi berkembangnya budaya nasional atau sebagai acuan bagi terciptanya budaya-budaya baru.
Islam yang masuk dan mengambil porsi terbesar dalam jumlah penganut agama di Indonesia menggantikan Hindu-Buddha memiliki peran besar dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Islam pertama kali masuk ke Indonesia mempengaruhi kebudayaan daerah, yang masih dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakat daerah. Sementara itu dalam pengembangan budaya nasional, peran Islam dalam terbentuknya wawasan persatuan dan kesatuan bangsa telah dibuktikan dalam sejarah. Islam dapat menjadi penghubung bagi kebudayaan daerah yang sebagian besar masyarakatnya adalah muslim. System budaya nasional adalah sesuatu yang masih baru dan dalam proses pembentukan persatuan nasional di Indonesia. System budaya nasional berkaitan dengan factor-faktor : kepercayaan dan nilai agama, ilmu pengetahuan, kedaulatan rakyat, serta toleransi danempati. Sedangkan budaya daerah adalah budaya yang tercipta dan berkembang di masyarakat suku bangsa. Nilai-nilai dalam budaya daerah telah mengakar kuat dalam masyarakat suku bangsa.
Dalam perkembangan budaya nasional, budaya daerah dijadikan sumber bagi berkembangnya budaya nasional atau sebagai acuan bagi terciptanya budaya-budaya baru.
Islam yang masuk dan mengambil porsi terbesar dalam jumlah penganut agama di Indonesia menggantikan Hindu-Buddha memiliki peran besar dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Islam pertama kali masuk ke Indonesia mempengaruhi kebudayaan daerah, yang masih dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakat daerah. Sementara itu dalam pengembangan budaya nasional, peran Islam dalam terbentuknya wawasan persatuan dan kesatuan bangsa telah dibuktikan dalam sejarah. Islam dapat menjadi penghubung bagi kebudayaan daerah yang sebagian besar masyarakatnya adalah muslim. Jadi islam masuk ke Indonesia lengkap dengan budayaannya.
Integrasi nilai-nilai Islam kedalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia ternyata tidak sekedar masuk pada aspek budaya semata tetapi sudah masuk ke wilayah hukum. Sebagai contoh dalam hukum keluarga (akhwalu syahsiyah) masalah waris, masalah penikahan, dan lain-lain. Mereka tidak sadar nilai-nilai islam masuk wilayah hukukm yang berlaku di Indonesia.
D.     MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN ISLAM
Masjid pada umumnya dipahami oleh masyrakat sebagai tempat ibadah khusus seperti shalat, padahal masjid berfungsi lebih luas daripada sekedar tempat shalat. Sejak awal berdirinya masjid belum bergeser dari fungsi utamanya yaitu tempat shalat. Akan tetapi perlu diingat bahwa masjid di zaman Nabi berfungsi sebagai Pusat Peradaban. Nabi saw menyucikan jiwa kaum muslimin, mengajarkan Al Quran dan Al-hikmah, bermusyawarah untukn menyelesaikan berbagai persoalan kaum muslimin, membina sikap dasar kaum muslimin terhadap orang yang berbeda agama dan ras, hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan umat justru dari masjid. Masjid dijadikan simbol persatuan. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi mendirikan masjid pertama, fungsi masjid masih kokoh dan original sebagai pusat peribadatan dan peradaban. Sekolah-sekolah da universitas-universitas bermunculan justru dari masjid.
            Tetapi sangat disesalkan karena masjid mengalami penyempitan fungsi karena adanya interfasi pihak-pihak tertentu yang mempolitisi masjid sebagai alat untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Ruh peradaban yang syarat dengan misi ketuhanan seolah-olah telah mati. Awal kematiannya bermula dari hilangnya tradisi berpikir integral dan komperehensif menjadi berpikir sektoral dan sempit. Ruh dan aktivitas pendidikan serta merta hengkang dari masjid. Masjid hanya mengajari umat tentang belajar baca tulis Alquran tanpa pengembangan wawasan dan pemikiran Islami dan tempat belajar umat tentang ilmu fikih ibadah bahkan lebih sempit lagi yaitu ibadah praktis dari salah satu madzhab. Lebih parah lagi masjid-masjid menjadi tempat belajar menghujat dan menyalahkan madzhab-madzhab lain yang berbeda.
            Dalam syariat islam masjid memiliki dua fungsi utama yaitu : pertama, sebagai pusat ibadah ritual, dan kedua, sebagai pusat ibadah sosial. Dari kedua fungsi tersebut titik sentralnya bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai pusat pembinaan umat.