Berita Terbaru :

Sabtu, 13 April 2013

KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF (BUKU AJAR PART 1)


BAB I
KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF
Setelah Mahasiswa mengikuti perkuliahan diharapkan mampu :
1. Menjelaskan Konsep Dasar Penelitian Kualitatif
2. Membedakan Penelitian Kualitatif & Kuantitatif Dalam Pendidikan
3. Menjelaskan Karakteristik Penelitian Kualitatif


A.    PENGERTIAN PENELITIAN KUALITATIF
      Istilah penelitian kualitatif diberi makna sebagai jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Mereka memberikan contoh penelitian kualitatif seperti penelitian tentang kehidupan, riwayat, perilaku seseorang, disamping juga tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik. Sebagian datanya dapat dihitung sebagaimana data sensus, namun analisisnya bersifat kualitatif. Pada umumnya data diperoleh melalui wawancara dan pengamatan. Data yang terkumpul tidak diolah secara statistik. Untuk melengkapi data yang dihasilkan dari proses wawancara dan pengamatan, peneliti dapat menggumakan dokumen, buku, kaset video dan bahkan data yang telah dihitung untuk tujuan lain, misalnya data sensus.
      Penelitian kaulitatif adalah salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berfikir induktif. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat dalam situasi dan setting fenomenanya yang diteliti. Peneliti diharapkan selalu memusatkan perhatian pada kenyataan atau kejadian dalam konteks yang diteliti. Setiap kejadian merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dengan yang lain karena ada perbedaan konteks.
      Para peneliti lebih senang menghubungi beberapa informan kunci dari suatu komunitas. Jumlah informan yang dijadikan responden jumlahnya dapat dikatakan relatif kecil sekali. Sebagai konsekuensinya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para peneliti relatif mendalam sekali. Kesediaan informan untuk mau menghabiskan waktunya berjam-jam dalam beberapa hari sering menjadi pertanda berhasilnya proses wawancara.
      Tugas peneliti adalah mengumpulkan data dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga para informan dibiarkan berbicara sendiri. Tujuannya adalah untuk membuat laporan apa adanya dengan sedikit atau tanpa interpretasi atau campur tangan atas kata-kata lisan informan dan dengnan sedikit atau tanpa penafsiran atas pengamatan yang dilakukan oleh para peneliti sendiri. Walau kelompok peneliti ini berpendapat bahwa pandangan informan tentang realitas tidak mencerminkan ”kebenaran”, namun pendapat subjek dilaporkan secara spontan dan penuh makna.
      Penelitian kualitatif umumnya digunakan dalam dunia ilmu-ilmu sosial dan budaya misalnya penelitian kebijakan, ilmu politik, administrasi, psikologi komunitas dan sosiologi, organisasi dan manajemen, bahkan sampai pada perencanaan kota dan perencanaan regional.
      Menurut Miles dan Hubermen bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertitik tolak dari realitas dengan asumsi pokok bahwa tingkah laku manusia mempunyai makna bagi pelakunya dalam konteks tertentu. Sehingga ada tiga aspek pokok yang harus dipahami: 
       Pada dasarnya manusia selalu bertindak sesuai dengan makna terhadap semua yang ditemui dan dialami di dunia ini.Makna yang ditemui dan dialami timbul dari interaksi antar individu. Manusia selalu menafsirkan makna yang ditemui dan dialami sebelum ia bertindak, tindakan yang dijalankan sejalan dengan makna terhadap barang yang digunakan.
B.     PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
      Memahami landasan filosofis penelitian kualitatif dalam perbandingannya dengan penelitian kuantitatif merupakan hal yang penting sebagai dasar bagi pemahaman yang tepat  terhadap penelitian kualitatif, namun demikian bagi seorang peneliti penguasaan dalam tingkatan operasional lebih diperlukan lagi agar dalam pelaksanaan penelitian tidak terjadi kerancuan metodologis, dan penelitian benar-benar dilaksanakan dalam suatu bingkai pendekatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
      Dalam tataran metodologis perbedaan landasan filosofis terrefleksikan dalam perbedaan metode penelitian, dimana positivisme dimanifestasikan dalam metode penelitian kuantitatif sedangkan fenomenologi dimanifestasikan dalam metode penelitian kualitatif. Kedua pendekatan ini sering diposisikan secara diametral, meskipun belakangan ini terdapat upaya untuk menggabungkannya baik dalam bentuk paralelisasi maupun kombinasi, adapun perbedaan antara metode kuantitatif dengan kualitatif adalah sebagai berikut  :
Tabel 1.1
Perbedaan Metode Kuantitatif dengan Kualitatif
No
Metode Kuantitatif
Metode Kualitatif
1
Menggunakan hiopotesis yang ditentukan  sejak awal penelitian
Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian/saat penelitian
2
Definisi yang jelas dinyatakan sejak awal
Definisi sesuai konteks atau saat penelitian berlangsung
3
Reduksi data menjadi angka-angka
Deskripsi naratif/kata-kata, ungkapan atau pernyataan
4
Lebih memperhatikan reliabilitas skor yang diperoleh melalui instrumen penelitian
Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan
5
Penilaian validitas menggunakan berbagai prosedur dengan mengandalkan hitungan statistik
Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi
6
Mengunakan deskripsi prosedur yang jelas (terinci)
Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif
7
sampling random
Sampling purposive
8
Desain/kontrol statistik atas variabel eksternal
Menggunakan analisis logis  dalam mengontrol variabel ekstern
9
Menggunakan desain khusus untuk mengontrol bias prosedur
Mengandalkan peneliti dalam mengontrol bias
10
Menyimpulkan hasil menggunakan statistik
Menyimpulkan hasil secara naratif/kata-kata
11
Memecah gejala-gejala menjadi bagian-bagian untuk dianalisis
Gejala-gejala yang terjadi dilihat dalam perspektif keseluruhan
12
Memanipulasi aspek, situasi atau kondisi dalam mempelajari gejala yang kompleks
Tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah /membiarkan keadaan aslinya 
(diadaptasi dari Jack R. Fraenkel &  Norman E. Wallen. 1993 : 380)
Perbedaan lainnya tentang penelitian kualitatif tercantum pada tabel berikut ini.
Tabel 1.2
Tabel Perbedaan Penelitian Kuantitatif dengan Penelitian Kualitatif
Penelitian Kualitatif
Penelitian Kuantitatif
Desain tidak terinci, fleksibel, timbul "emergent" serta
berkembang sambil jalan antara lain mengenai tujuan, subjek,
sampel, dan sumber data.
Desain terinci dan mantap.
Desain sebenarnya baru diketahui dengan jelas setelah penelitian

selesai (retrospektif).
Desain direncanakan sebelumnya pada tahapan persiapan

(projektif)
Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, hipotesis lahir

sewaktu penelitian dilakukan; hipotesis berupa "hunches", petunjuk

yang bersifat sementara dan dapat berubah; hipotesis berupa

pertanyaan yang mengarahkan pengumpulan data.
Mengemukakan hipotesis sebelumnya, yang akan diuji

kebenarannya.
Hasil penelitian terbuka, tidak diketahui sebelumnya karena

jumlah variabel penelitian tidak terbatas
Hipotesis menentukan hasil yang diharapkan; hasil telah  diramalkan (apriori); hasil penelitian telah terkandung di dalam

hipotesis, jumlah variabel terbatas
Desain fleksibel, langkah-langkah tidak dapat dipastikan sebelumnya dan hasil penelitian tidak dapat diketahui atau diramalkan sebelumnya
Dalam desain jelas langkah-langkah penelitian serta hasil yang
diharapkan
Analisis data dilakukan sejak mula penelitian dan dilakukan  bersamaan dengan pengumpulan data, walaupun analisis akan lebih banyak pada tahap-tahap selanjutnya.
Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul pada tahap akhir.

C.    ALASAN MEMILIH PENELITIAN KUALITATIF
      Strauss dan Corbin menyatakan bahwa seseorang yang melakukan penelitian kualitatif memiliki beberapa alasan. Pertama, adalah alasan demi kemantapan peneliti berdasarkan pengalaman penelitiannya. Beberapa peneliti yang memiliki latar belakang bidang pengetahuan seperti antropologi, atau yang terkait dengan orientasi filsafat seperti fenomenologi, biasanya dianjurkan untuk menggunakan metode kualitatif. Kedua, adalah alasan untuk tidak terjebak pada angka-angka hasil pengolahan dengan menggunakan teknik statistik yang cenderung berlaku untuk populasi. Ketiga, adalah alasan dari sifat masalah yang diteliti. Dalam beberapa bidang studi, pada dasarnya lebih tepat digunakan jenis penelitian kualitatif. Contoh dari penelitian semacam ini adalah penelitian untuk mengungkap sifat pengalaman seseorang dengan fenomena seperti sakit, berganti agama, ketagihan obat, kehidupan pengemis, dan pola partisipasi wanita bekerja di luar rumah.

D.    KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF
      Ciri atau karakteristik penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :
Tabel 1.3
Ciri- ciri pokok Penelitian Kualitatif
1
Naturalistic inquiry
Mempelajari situasi dunia nyata secara alamiah, tidak melakukan manipulasi,; terbuka pada apapun yang timbul.
2
Inductive analysis
Mendalami rincian dan kekhasan data guna menemukan  kategori, dimensi, dan kesaling hubungan.
3
Holistic perspective
Seluruh gejala yang dipelajari dipahami sebagai sistem yang kompleks lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannya.
4
Qualitative data
Deskripsi terinci, kajian/inkuiri dilakukan secara mendalam.



5
Personal contact and insight
Peneliti punya hubungan langsung dan bergaul erat dengan orang-orang, situasi dan gejala yang sedang dipelajari.
6
Dynamic systems
Memperhatikan proses; menganggap perubahan bersifat konstan dan terus berlangsung baik secara individu maupun budaya secara keseluruhan
7
Unique case orientation
Menganggap setiap kasus bersifat khusus dan khas
8
Context Sensitivity
Menempatkan temuan dalam konteks sosial, historis dan waktu
9
Emphatic Netrality
Penelitian dilakukan secara netral agar obyektif tapi bersifat empati
10
design flexibility
Desain penelitiannya bersifat fleksibel, terbuka beradaptasi sesuai perubahan yang terjadi (tidak bersifat kaku)
(Sumber : Patton : 1990 :40-41)
a.      Inkuiri naturalistic
      Desain  penelitian kualitatif  bersifat alamiah dimana   peneliti tidak berusaha memanipulasi setting penelitian, kondisi/situasi obyek yang diteliti benar-benar merupakan kejadian, komunitas, interaksi yang terjadi secara alamiah, hal ini dikarenakan metode kualitatif berusaha memahami fenomena-fenomena dalam kejadian alami yang wajar. Menurut Guba inkuiri naturalistik merupakan pendekatan yang berorientasi pada penemuan yang meminimalisir manipulasi peneliti atas obyek penelitian/studi
b.      Analisis induktif
      Metode kualitatif terutama berorientasi pada upaya eksplorasi, penemuan dengan menggunakan logika induktif . analisis induktif  bermakna analisis yang dimulai dengan melakukan observasi spesifik menuju terbentuknya pola umum. Peneliti kualitatif berusaha memahami berbagai hubungan antar dimensi/variabel yang muncul dari data-data yang ditemukan tanpa terlebih dahulu membuat hipotesis sebagaimana umum dilakukan dalam penelitian kuantitatif.
c.       Perspektif menyeluruh
      Metode kualitatif berusaha memahami fenomena sebagai suatu keseluruhan yang padu dan total. Peneliti kualitatif memandang bahwa keseluruhan itu merupakan suatu sistem yang kompleks tidak sekedar penjumlahan bagian-bagiannya. Pendeskripsian serta pemahaman atas lingkungan sosial (atau lingkungan dalam konteks lainnya) seseorang (informan) merupakan hal yaang sangat penting bagi pemahaman yang menyeluruh atas apa yang diteliti.
d.      Data kualitatif
      Dalam  penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan lebih bersifat kualitatif yang mendeskripsikan setting penelitian baik situasi maupun informan/responden yang umumnya berbentuk narasi baik melalui perantaran lisan seperti ucapan/penjelasan responden,  dokumen pribadi, catatan lapangan. Berbeda dengan penelitian kuantitatif dimana data yang dikumpulkan merupakan hasil pengukuran atas variabel-variabel yang telah dioperasionalkan (umumnya berbrntuk angka-angka)
e.       Kontak personal
      Metode kualitatif mensyaratkan perlunya kontak personal secara langsung antara peneliti dengan orang-orang dan lingkungan yang sedang diteliti. Perlunya kontak langsung secara personal adalah guna memahami secara personal realitas yang terjadi dalam kehidupan wajar sehari-hari, sehingga peneliti dapat mengerti dan memahami bagaimana  orang-orang mengalami, memahami dan menghayati realitas yang terjadi.

f.        Sistem yang dinamis
      Setting penelitian merupakan sesuatu yang dinamis, dan selalu berubah baik secara individual maupun budaya secara keseluruhan. Perhatian utama peneliti kualitatif adalah menggambarkan dan memahami proses dinamika yang terjadi, karena fenomena-fenomena yang terjadi saling berkaitan dan saling mempengaruhi secara dinamis dalam suatu sistem yang menyeluruh.
g.      Berorientasi pada kasus yang khas
      Kedalaman metode kualitatif secara tipikal bermula dari kasus-kasus kecil yang menarik sesuai dengan tujuan penelitian. Pentingnya studi kasus ini terutama bila seseorang memerlukan pemahaman atas orang-orang yang istimewa, masalah-masalah khas atau situasi-situasi yang unik secara lebih mendalam.
h.      Sensitif pada konteks
      Temuan-temuan dalam penelitian kualitatif selalu ditempatkan sesuai dengan konteksnya, baik konteks sosial, konteks historis, maupun konteks waktu, ini berarti bahwa suatu temuan akan banyak bermakna atau akan memberikan makna yang lebih mendalam bila dilihat dalam konteksnya sendiri-sendiri, oleh karena itu peneliti harus peka dalam memahami konteks suatu temuan penelitian.
i.        Netralitas yang empati
      Obyektivitas yang sempurna adalah tidak mungkin, subyektivitas murni akan merusak keterpercayaan, untuk itu dalam penelitian kualitatif seorang penelity diharapkan bersifat netral tapi empati, kenetralan merupakan upaya untuk menjaga obyektivitas, sedangkan sikap empati perlu ada mengingat peneliti kualitatif melakukan kontak personal secara langsung dengan sumber-sumber data (informan)
j.        Desain yang lentur
     Desain penelitian dalam metode kualitatif tdak bersifat kaku, dia biasa mengadaptasi perubahan sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam kegiatan penelitian, oleh Karena itu dalam penelitian kualitatif desain secara parsial bisa muncul pada saat penelitian sedang berlangsung.
     Setelah mensintesiskan pendapat Bogdan & Biklen dengan pendapat Lincoln & Guba,  Moleong mengemukakan sebelas karakteristik penelitian kualitatif yaitu :
1.      Latar alamiah (penelitian dilakukan pada situasi alamiah dalam suatu keutuhan)
2.      Manusia sebagai alat (Manusia/peneliti merupakan alat pengumpulan data yang utama)
3.      Metode kualitatif (metode yang digunakan adalah metode kualitatif)
4.      Anslisa data secara induktif (mengacu pada temuan lapangan)
5.      Teori dari dasar/grounded theory (menuju pada arah penyusunan teori berdasarkan data)
6.      Deskriptif (data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka)
7.      Lebih mementingkan proses daripada hasil
8.      Adanya batas yang ditentukan oleh fokus (perlunya batas penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagai masalajh dalam penelitian)
9.      Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data (punya versi lain tentang validitas, reliabilitas dan obyektivitas)
10.  Desain yang bersifat sementara (desain penelitian terus berkembang sesuai dengan kenyataan lapangan)
11.  Hasil penelitiaan dirundingkan dan disepakati bersama (hassil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama antar peneliti dengan sumber data)
            Sementara itu menurut Nasution ciri-ciri  metode kualitatif adalah :
1.      Sumber data adalah situasi yang wajar  atau natural settting Peneliti sebagai instrumen penelitian
2.      Sangat deskriptif
3.      Mementingkan proses maupun produk
4.      Mencari makna
5.      Mengutamakan data langsung
6.      Triangulasi (pengecekan data/informasi dari sumber lain)
7.      Menonjolkan rincian kontekstual
8.      Subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti
9.      Mengutamakan perspektif emik (menurut pandangan responden)
10.  Verifikasi (menggunakan kasus yang bertentangan untuk memperoleh hasil yang lebih dipercaya)
11.  Sampling yang purposive
12.  Menggunakan audit trial (melacak laporan/informasi sesuai dengan data yang terkumpul)
13.  Partisipsi tanpa mengganggu
14.  Mengadakan analisis sejak awal penelitian
15.  Data dikumpulkan dalam bentuk kata-kata atau gambar ketimbang
16.  Desain penelitian tampil dalam proses penelitian

      Sedangkan Basrowi dan Sukidin menyebutkan tujuh karakteristik penelitian kualitatif.
a.       Pertama, dilihat dari kerangka teori Penelitian Kuantitatif menuntut penyusunan kerangka teori, sedangkan kualitatif menolak sepenuhnya penggunaan kerangka teoritik sebagai persiapan penelitian. Membuat persiapan teoritik seperti itu hanya akan menghasilkan penelitian yang artificial dan jauh dari sifat natural-nya.
b.      Kedua, ada tidaknya hipotesis. Penelitian kualitatif tidak terikat oleh hipotesis, mengingat hipotesis muncul karena kerangka teoritik yang mendahuluinya. Disamping itu, penelitian kualitatif tidak melihat kerangka teoritik yang mendahuluinya. Penelitian kualitatif berangkat dari pikiran kosong dalam rangka membangun suatu konsep. Seandainya dalam suatu penelitian yang mengklaim menggunakan pendekatan kualitatif, tetapi ternyata di dalamnya masih terlihat kerangka teoritik maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, bahwa teori yang ada dalam penelitian itu kemungkinan digunakan untuk meraba atau bahkan dibuan (ditolak) ketika mendapatkan hal yang baru di lapangan. Kemungkinan kedua, penelitian itu tidak sepenuhnya kualitatif. Mengingat penelitian kualitatif sangat membutuhkan waktu yang cukup lama, sementara keterbatasan waktu penelitian membuat peneliti tidak berani mengklaim pendekatan penelitian yang digunakan sepenuhnya kualitatif.
c.       Ketiga, ada tidaknya ubahan (variabel). Dalam melihat fenomena, penelitian kualitatif berusaha melihat objek dalam konteksnya dan menggunakan tata pikir logik lebih dari sekedar linier kausal. Penelitian kualitatif tidak menentukan ubahan-ubahan dan kategori ubahan serta tidak berusaha mengukur itu, apalagi mengkuantifikasikan.
d.      Keempat, hubungan peneliti dan responden. Peneliti dalam pengumpulan data berfungsi sebagai instrumen yang berusaha mengikuti asumsi-asumsi kultural dan mengikuti data kualitatif. Peneliti berupaya mencapai wawasan imajinatif ke dalam dunia sosial responden dengan secara fleksibel, reflektif dan tidak mengambil jarak dengan responden. Dalam hal ini, peneliti melakukan pengamatan berperan serta (participant observation) atau ada juga yang menamakan pengamatan terlibat. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif diharapkan terbina rapport. Rapport adalah hubungan antara peneliti dan subjek yang sudah melebur sehingga seolah-olah tidak ada lagi dinding pemisah diantara keduanya. Dalam melakukan upaya ini, peneliti harus benar-benar memahami latar penelitian, seperti bahasa, budaya, dan adat-istiadat sehingga dalam melakukan penelitian peneliti benar-benar dapat diterima sebagai anggota masyarakat. Setidaknya terdapat dua pendekatan penting dalam proses pengumpulan data sewaktu melakukan kajian lapangan dalam studi kualitatif, yakni : (1) pengamatan berperan serta (participant observation). Teknik atau pendekatan ini digunakan untuk menunjuk pada penelitian berciri periode interaksi sosial yang intensif, sehingga peneliti ikut berperan pada kegiatan atau proses yang sedang diteliti, ikut empati dan ikut masuk ke dalam serta membiarkan setting ”alamiah” itu terjadi. Dengan demikian, maka ia dapat menguak keunikan yang terjadi dalam subjek kajian dan (2) dokumen pribadi, termasuk di dalamnya wawancara bebas. Teknik ini menunjuk pada bahan-bahan, tempat orang mengungkapkan kata-katanya sendiri, pandangan tentang kehidupannya, dan berbagai aspek kehidupannya sendiri. Dokumen ini dapat berupa buku harian, surat, otobiografi dan catatan hasil wawancara terbuka.
e.       Kelima, metode analisis data. Kajian penelitian kualitatif apabila ditilik dari teknik pendekatan dan analisis data yang digunakan akan berbeda dengan pendekatan kualitatif, mengingat dalam pendekatan kualitatif tidak bisa hanya dilakukan secara analisi linier, akan tetapi harus menggunakan analisis interaktif. Analisis interaktif ditujukan untuk kecermatan penelitian kualitatif dan menjaga kualitas hasil penelitian. Metode analisis semacam ini disebut sebagai model analisis interaktif, di mana masing-masing komponen pengumpulan data, reduksi data, display data, dan kesimpulan hasil dilakukan secara simultan atau secara siklus. Model analisis alur tahapan yang bersifat siklus memiliki tiga tahapan.
·         Tahap open coding.
      Pada tahap ini, peneliti berusaha mendapatkan data sekaya mungkin yang berkaitan dengan subjek.
·         Tahap axial coding
      Tahap ini diorganisir kembali berdasarkan atas kategorinya untuk dikembangkan ke arah beberapa proposisi. Pada tahap ini pula dilakukan analisis hubungan antar kategori. Hubungan tersebut mengarah pada metode grounded theory.
·         Tahap selective coding.
      Tahap ini merupakan tahap memeriksa mana kategori yang inti dan kaitannya dengan kategori yang lain, sehingga dapat diketahui dan dijelaskan yang menjadi inti atau pusat dari konsep atau kategori lainnya.
            Sudikan menyatakan bahwa aplikasinya kemungkinan sebagai berikut : dalam open coding, kegiatan peneliti meliputi : memerinci, memeriksa, memperbandingkan, mengkonseptualisasi dan mengkategorikan. Dalam tahap axial coding, kegiatannya adalah melakukan pengorganisasian kembali berdasarkan kategori untuk dikembangkan ke arah proposisi. Dalam tahap ini selective coding , kegiatannya adalah mengklasifikasikan proses pemeriksaaan kategori inti dalam kaitannya dengan kategori lainnya.
f.       Keenam, Proses dan hasil. Penelitian kualitatif mementingkan proses daripada hasil. Hal ini terjadi karena hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. Peranan proses lebih besar dibandingkan hasil.
g.      Ketujuh, Responden dan sample. Dalam penelitian kualitatif, tidak mengenal istilah random sampling, ukuran sample, luas sample dan metode sampling. Dalam penelitian kualitatif, lebih dikenal dengan istilah informan dan snowball sampling. Dalam penelitian kuantitatif, semakin besar sample akan semakin kecil kesalahan sampling. Akan tetapi, dalam penelitian kualitatif banyak sedikitnya informan tidak menentukan akurat dan tidaknya penelitian. Bahkan dalam penelitian kualitatif bisa jadi informannya hanya satu orang dengan syarat validitas data yang terkumpul dari informan tersebut dapat terpenuhi.
      Dengan memperhatikan karakteristik penelitian kualitatif yang dikemukakan para ahli sebagaimana dikemukakan di atas, nampaknya lebih bersifat saling melengkapi dan menambah, karakteristik yang dikemukakan oleh Patton lebih bersipat umum yang merupakan ciri-ciri dasar, rumusan Moleong  sudah menambahkan hal-hal yang bersipat operasional penelitian, terlebih lagi karakteristik yang dikemukakan oleh Nasution. Dengan variasi semacam ini maka akan lebih mempermudah/memperjelas pemahaman tentang penelitian kualitatif.
EVALUASI
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar!
1.      Jelaskan Pengertian Penelitian kualitatif ?
2.      Jelaskan perbedaan Penelitian Kualitatif & Kuantitatif ?
3.      Sebutkan & jelaskan menurut pendapat anda tentang karakteristik penelitian kualitatif ?
4.      Jelaskan mengapa peneliti memilih penelitian kualitatif ?

Rabu, 10 April 2013

"GENERASI INSTAN"

http://radarlampung.co.id/read/images/stories/2010/05mei/10/xpresi.jpg

Perkembangan peradaban telah memudahkan seluruh aktifitas manusia, bahkan mereka dapat melakukan berbagai aktifitas yang dulu sangat mustahil secara bersamaan tanpa harus berpindah tempat. Dengan teknologi batasan ruang, waktu, dan sumber daya tidak lagi menjadi masalah penting. Fungsi manusia lambat laun mulai digantikan dengan fungsi mesin.  
Manusia cenderung menginginkan segala sesuatunya dilakukan secara cepat, serba instan. Kebiasaan instan ini secara perlahan-lahan menjadi sebuah budaya yang saat ini sudah demikian kuat tertanam dan tumbuh pada generasi kita.  
Menginginkan segala sesuatu serba cepat dan praktis, tanpa perlu bersusah payah, menjadi ciri kuat generasi sekarang. Padahal, kematangan kerja hanya bisa didapat melalui proses. Timbul kemudian masalah yakni :
1. Apa sebenarnya generasi instan itu.
2. Apa dampak buruknya.
3. Bagaimana cara meyakinkan seseorang itu bahwa keberhasilan itu bukan hal yang mudah.
Pertanyaan pertama akan saya bahas. Apa sebenarnya generasi instan itu. Istilah generasi instan ini muncul untuk memberi nama gejala yang berkembang di masyarakat perkotaan yang menginginkan segala sesuatu secara cepat dan praktis, tanpa mau bersusah payah. Mau minum kopi atau makan mi, tidak mau repot-repot menghidupkan kompor, memasak air, dan seterusnya. Software komputer, kamera, ponsel, dan segala macam peralatan teknologi tinggi lainnya telah dibuat sedemikian user friendly. Mengerjakan tugas tinggal ketik kata kunci di “Om Google”, setelah dapat sumber, buka sumber ujung-ujungnya copy dan paste.
Dalam hal ini generasi instan merupakan generasi yang selalu menginginkan sesuatu secara cepat, namun tidak tepat, cermat, dan menghargai proses. Generasi instan melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Generasi instan sama sekali tidak melihat dari efektifitas dan efesiensi,karena yang dilihat hanya hasilnya.
Nah, pertanyaan kedua mengenai dampak buruk dari perilaku tersebut yakni :
1.Siswa atau pelajar hanyaakan  mengukur keberhasilan dari hasilnya, bukan dari prosesnya
2.Tidak ingin mempelajari sesuatu secara menyeluruh dan sering menggeneralisasikan sesuatu.
3.Membenci tahapan-tahapan dalam melakukan sesuatu.
4.Sangat antusias dengan instilah-istilah  CARA CEPAT, CARA KILAT,KONSEP PRAKTIS dan tidak pernah memikirkan bagaimana bisa cepat, kilat, dan praktis.
5.Malas mempelajari core ilmu dan hanya senang menggunakan hasil kerja/temuan orang lain

Generasi Manja
Budaya instan yang intinya memanjakan manusia inilah yang barangkali ikut mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya generasi manja. Generasi manja inilah yang saat sekarang ini mulai meninggalkan bangku sekolah dan memasuki dunia kerja. 
Mereka tidak terbiasa bekerja keras. Mereka tidak dibiasakan untuk memahami suatu proses. Selain itu, aspirasi dan harapan seseorang memang sangat mungkin dipengaruhi oleh orang-orang lain di lingkungannya. Baik itu dalam lingkungan nyata, maupun lingkungan fiktif seperti yang ada dalam film, buku, atau majalah. Sayangnya film dan cerita-cerita yang beredar di masyarakat justru menyajikan tokoh-tokoh yang mencapai keberhasilan secara ekstra cepat, senada dengan proses instan. Sedikit sekali film yang menunjukkan seorang pegawai yang harus bekerja sangat keras untuk menapaki jalur karirnya. 
Kebanyakan film menunjukkan orang yang baru masuk kerja langsung sudah punya kursi direktur, ruang kerja pribadi punya mobil lengkap dengan sopir. Banyaknya contoh dari berbagai macam jenis profesi dan tokoh berhasil dalam profesi itu, telah memancing hasrat kaum muda khususnya bagi kaum intelektual untuk bisa menjadi seperti mereka. Apalagi seiring dengan keberhasilan mereka telah ditunjukkan pula semua atribut sampingan yang membuat orang kagum atau tergiur.

Tidak Mudah
Sekarang tentang pertanyaan ketiga, bagaimana menyakinkan mereka bahwa keberhasilan itu bukan hal yang mudah. Sebetulnya jawabannya sudah ada dalam pertanyaan itu sendiri. Keberhasilan bukanlah hal yang mudah. 
Walaupun tidak mudah, hal itu juga bukan mustahil, terutama bagi kita yang bukan produk budaya instan. Kita  sendiri baru berhasil menduduki posisi seperti sekarang setelah melalui perjalanan yang panjang. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mengajak mereka mengenali proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah produk, apa pun produk itu. Bahkan kehadiran kopi atau mi instan adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. 
Mula-mula ada gagasan untuk memproduksi mi instan. Sesudah itu ada proses menyakinkan berbagai pihak untuk ikut mendukung gagasan itu. Lalu ada serangkaian penelitian untuk menghasilkan produknya. Setelah itu masih ada proses pemasaran, distribusi, dan lain sebagainya.
Kita harus mampu menunjukkan kepada mereka bahwa semua keluaran yang dihasilkan di universitas pun harus melalui serangkaian proses. Misalnya lahirnya seorang sarjana strata satu harus menempuh pendidikan minimal 4 tahun atau 8 semester. Mulanya harus ada perencanaan kuliah, ada jadwal kuliah, dan ada pula proses perkuliahan yang sangat perlu kita ikuti untuk menempuh gelar sarjana itu. Setelah menyadari bahwa segalanya perlu proses, mereka akan lebih mudah menyakini bahwa untuk mencapai posisi tertentu pun harus melalui sejumlah proses. 
Meskipun begitu, tidak semua orang perlu waktu sama panjang karena ada saja orang-orang yang mempunyai bakat lebih dari orang kebanyakan. Keberhasilan dalam menyakinkan mereka akan menjadi lebih mudah kalau Anda berhasil menunjukkan bahwa banyak hal yang tidak atau belum mereka kuasai dan harus dipelajari.Masih banyak ciri-ciri lain dari generasi instan yang belum disampaikan. Intinya generasi instan adalah generasi yang konsumtif, menginginkan segala sesatunya secara cepat tanpa perhitungan dan tidak menghargai proses.




Sumber Kajian :

Hartoto. Generasi Instan Tidak Menghargai Proses.
http://fatamorghana.wordpress.com/2009/09/24/generasi-instan-tidak-menghargai-proses/

Dewi Matindas. Budaya Instan Generasi Manja.
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/06/15401763/Budaya.Instan.Generasi.Manja.

Selasa, 02 April 2013

Definisi Teknologi Pendidikan

Konsepsi teknologi pendidikan telah berkembang pada saat sekarang ini. Teknologi pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses yang sesuai dengan sumber daya.
Berikut akan dijelaskan definisi Teknologi Pendidikan melalui kata kunci tertentu yang maknanya dalam konteks definisi.

1. Study
Pemahaman teoritis, serta praktek, teknologi pendidikan, memerlukan konstruksi dan perbaikan pengetahuan yang berkesinambungan melalui penelitian dan praktek reflektif, yang tercakup dalam studi panjang. Artinya, studi mengacu pada pengumpulan informasi dan analisis di luar konsepsi tradisional penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk meliputi penelitian kuantitatif dan kualitatif serta bentuk-bentuk penyelidikan disiplin seperti teori, analisis filosofis, penyelidikan historis, proyek-proyek pembangunan, analisis kesalahan, analisis sistem, dan evaluasi.
Penelitian secara tradisional baik generator ide-ide baru dan proses evaluatif untuk membantu meningkatkan praktek. Penelitian dapat dilakukan berdasarkan berbagai metodologi konstruksi serta beberapa konstruksi teoritis. Penelitian dalam teknologi pendidikan telah berkembang dari investigasi mencoba "membuktikan" bahwa media dan teknologi merupakan alat efektif dalam proses instruksi, untuk penyelidikan diformulasikan untuk memeriksa aplikasi yang sesuai proses dan teknologi untuk peningkatan pembelajaran.
Penelitian penting untuk mencari sesuatu yang baru dalam teknologi pendidikan dalam penggunaan lingkungan otentik dan hal penggunaan praktisi serta peneliti. Hal ini melekat pada kata penelitian adalah proses iteratif. Penelitian berupaya untuk menyelesaikan masalah dengan solusi menyelidiki, dan mereka mencoba mengarah pada praktek baru dan karena itu muncul  masalah baru dan pertanyaan. Tentu saja, ide-ide praktek reflektif dan penyelidikan berdasarkan pengaturan otentik perspektif berharga pada penelitian. Praktisi Reflektif mempertimbangkan masalah di lingkungan mereka (misalnya, masalah belajar siswa mereka) dan berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan perubahan dalam praktek, baik berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman profesional. Proses refleksi ini menyebabkan perubahan sehingga  dipertimbangkan upaya lebih lanjut untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam proses yang bersifat siklis praktek / refleksi yang dapat menyebabkan praktek ditingkatkan (Schon, 1990).
Daerah penyelidikan saat ini masalah sering ditentukan oleh masuknya teknologi baru ke dalam praktik pendidikan. Sejarah telah mencatat banyak program penelitian dimulai dari respon terhadap teknologi baru, menyelidiki bagaimana merancang yang baik, mengembangkan, menggunakan, dan mengelola produk-produk teknologi baru. Namun, baru-baru ini, program penyelidikan dalam teknologi pendidikan telah dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perubahan posisi teoritis terutama dalam teori belajar, pengelolaan informasi, dan bidang lain yang terkait. Sebagai contoh, teori teori pembelajaran kognitif dan konstruktivis telah berubah penekananannya dari mengajar untuk belajar. Perhatian terhadap perspektif pelajar, preferensi, dan kepemilikan dari proses pembelajaran telah mengalami banyak perkembangan.
Pergeseran teoritis telah mengubah orientasi lapangan secara dramatis, didorong oleh desain instruksi untuk menjadi "disampaikan" dalam berbagai format dalam bidang tertentu yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar di mana pelajar dapat mengeksplorasi dibantu oleh dukungan sistem elektronik dalam rangka untuk sampai pada pemahaman yang bermakna. Penekanan penelitian telah bergeser ke arah mengamati pembelajar partisipasi aktif dan konstruksi jalan mereka sendiri terhadap pembelajaran.
2. Etika praktek.
Teknologi pendidikan telah lama memiliki sikap etis dan kode praktek etis harapan. AECT telah aktif dalam menentukan standar etika bidang dan dalam memberikan contoh-contoh kasus untuk membahas dan memahami implikasi latihan keprihatinan terhadap hal etis. 
Telah ada peningkatan kepedulian dan perhatian terhadap isu-isu etis dalam teknologi pendidikan. Etika tidak hanya "aturan dan harapan" tetapi dasar untuk latihan. Bahkan, praktek etis adalah serangkaian dari harapan, batas, dan undang-undang baru daripada pendekatan atau membangun diri  untuk bekerja. Definisi saat ini menganggap praktek etis penting bagi keberhasilan profesional kita.
Dari perspektif teori kritis, profesional di bidang teknologi pendidikan harus mempertanyakan asumsi dasar seperti efektivitas tradisional konstruksi seperti pendekatan sistem dan teknologi instruksi, serta posisi kekuatan yang merancang pembangunan dalam solusi teknologi. Etika Kontemporer mewajibkan teknolog pendidikan untuk mempertimbangkan peserta didik mereka, yakni lingkungan untuk belajar, dan kebutuhan dengan baik. Agar mereka mengembangkan praktek-praktek mereka. Mengingat yang disertakan, yang diberdayakan, dan siapa yang berwenang adalah isu-isu baru dalam desain dan pengembangan solusi belajar, tapi dalam hal ini sikap etis bersikeras bahwa teknologi pendidikan adalah persoalan latihan mereka.
Kode Etik AECT Profesional mencakup prinsip-prinsip yang dimaksudkan untuk membantu anggota secara individual dan kolektif dalam mempertahankan tingkat tinggi perilaku profesional (welliver, 2001). Kode AECT adalah dibagi menjadi ada kategori: komitmen kepada individu, perlindungan hak-hak akses ke materi dan upaya untuk melindungi kesehatan dan keselamatan profesional; komitmen terhadap masyarakat, seperti pernyataan publik yang benar mengenai hal-hal pendidikan atau praktek  adil dan merata, dan komitmen terhadap profesi, seperti meningkatkan pengetahuan profesional dan keterampilan dan memberikan kredit yang akurat untuk bekerja dan ide-ide dipublikasikan. Masing-masing dari tiga bidang utama memiliki komitmen yang membantu profesional teknologi pendidikan mengenai tindakan yang tepat bagi mereka, terlepas dari konteks atau peran. Pertimbangan itu disediakan bagi mereka yang memberikan pelayanan dalam masyarakat seperti peneliti, dosen, konsultan, desainer, dan sumber belajar direksi, untuk membantu membentuk perilaku mereka dalam sikap profesional dan etika bisnis.
3. Pencapaian
Tugas belajar dapat dikategorikan menurut berbagai taksonominya. Salah satunya dikemukakan oleh Perkins (1992), Jenis paling sederhana dari belajar adalah retensi informasi. Di sekolah dan perguruan tinggi, pembelajaran dapat dinilai melalui tes yang memerlukan demostration. Unit Komputer berbasis instruksion dapat menggabungkan beberapa pemilihan, pencocokan, atau menjawab singkat tes.
Tujuan pembelajaran dapat meliputi pemahaman serta retensi. Penilaian yang memerlukan parafrase atau pemecahan masalah mungkin keran dimensi pemahaman. Bentuk semacam penilaian lebih challengingto desainer, terutama karena mereka tenaga kerja yang lebih intensif untuk comstruct dan mengevaluasi. Tujuan pembelajaran dapat meliputi pemahaman serta retensi. Penilaian yang memerlukan parafrase atau pemecahan masalah mungkin keran dimensi pemahaman. Bentuk semacam penilaian lebih challengingto desainer, terutama karena mereka tenaga kerja yang lebih intensif untuk comstruct dan mengevaluasi.
Tujuan Belajar mungkin lebih ambisius, misalnya pengetahuan dan keterampilan diterapkan digunakan secara aktif. Untuk menilai tingkat pembelajaran membutuhkan situasi masalah nyata atau simulasi. Salah satu ahli menggolongkan perbedaan-perbedaan jenis belajar hanya sebagai awal untuk belajar lebih mendalam (Weigel, 2001).
Jenis tersebut atau tingkat pembelajaran telah lama diakui, namun telah ada di sekolah, pendidikan tinggi, dan pelatihan perusahaan untuk lebih memperhatikan tingkat penggunaan aktif. Hal ini semakin dirasakan bahwa waktu dan uang yang dihabiskan untuk menanamkan dan menilai pengetahuan (Whitehead, 1929). Pada dasarnya adalah sia-sia. Jika pelajar tidak menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap di luar kelas.
4. Peningkatan
Untuk lapangan untuk memiliki klaim apapun pada dukungan publik itu harus mampu membuat kasus yang kredibel untuk menawarkan beberapa kepentingan publik. Ini harus menyediakan cara yang unggul untuk mencapai beberapa tujuan yang berharga. Misalnya, untuk koki untuk mengklaim sebagai kalangan praktisi kuliner mereka harus mampu menyiapkan makanan dengan cara yang bagaimanapun lebih baik daripada non-spesialis-lebih menarik, lebih aman, lebih bergizi, siap lebih efisien, atau sejenisnya. Dalam kasus teknologi pendidikan, untuk meningkatkan kinerja paling sering mencakup klaim bahwa efektivitas proses mengarah diramalkan untuk produk berkualitas, dan bahwa terbawa ke dalam aplikasi dunia nyata.
Efektivitas sering menyiratkan efisiensi, yaitu bahwa hasil yang dicapai dengan tenaga, waktu, dan biaya yang sedikit. Tapi efisien tergantung pada tujuan yang dikejar. Demikian pula, perancang Mungkin juga tidak setuju pada metode. Jika mereka tidak memiliki tujuan pembelajaran yang sama dalam mean. Untuk sebagian besar, gerakan pengembangan sistematika instruksional. Telah didorong oleh keprihatinan efisiensi, pasti telah membantu peserta didik mencapai tujuan yang telah ditetapkan diukur dengan penilaian objektif.

Efisiensi Konsep dilihat berbeda dalam pendekatan pembelajaran konstruktivis. Dalam pendekatan ini, lebih ditekankan pada daya tarik instruksi dan sejauh mana peserta didik diberdayakan untuk bebas  memilih tujuan sendiri dan cara  belajar mereka sendiri. Akan ada ukuran yang lebih mungkin dalam pengetahuan yang lebih penting yakni pengetahuan dari pengalamannya, dan dapat diterapkan untuk masalah di kehidupan sehari-hari. Desain seperti itu, bagaimanapun, masih akan perlu direncanakan untuk belajar penghematan bersama kerangka waktu tertentu dengan beberapa tujuan yang dimaksudkan melalui sumber daya untuk mencapai tujuan. Di antara pihak yang telah berhasil menyepakati tujuan, efisiensi dalam mencapai tujuan tersebut pasti akan dianggap sebagai nilai tambahan.
5. Kinerja
a. Pertama, dalam konteks Definisi ini, kinerja mengacu pada kemampuan pelajar untuk menggunakan dan menerapkan kemampuan yang baru diperolehnya. Secara historis, teknologi pendidikan selalu memiliki komitmen khusus untuk hasil. Objektifitas dinyatakan dalam hal kondisi aktual yakni orang sedang dilatih atau dididik, dan mereka dinilai seberapa baik dia berfungsi pada kondisi tersebut. Dengan demikian, acuan untuk meningkatkan kinerja diperkuat pada konotasi baru belajar.b. Selain untuk membantu individu peserta didik menjadi pebelajar yang lebih baik, alat-alat dan ide dari teknologi pendidikan dapat membantu guru dan desainer untuk menjadi pemain lebih baik dan mereka dapat membantu organisasi mencapai tujuan mereka lebih efisien. Artinya, teknologi pendidikan mengklaim memiliki kekuatan untuk meningkatkan produktivitas di tingkat individu dan organisasi.
Penggunaan meningkatkan kinerja dalam definisi ini tidak dimaksudkan untuk menyiratkan bahwa teknologi pendidikan meliputi segala bentuk peningkatan kinerja. Seperti dianjurkan dalam bidang teknologi releated kinerja manusia, ada berbagai macam dari inteventions yang dapat digunakan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja, seperti alat-alat, insentif, perubahan organisasi, dukungan kognitif, dan desain ulang pekerjaan, di samping instruksi . Karena meliputi semua jenis intervensi, teknologi kinerja manusia adalah konsep yang lebih luas dari teknologi pendidikan.
Definisi ini menyebutkan tiga fungsi utama yang merupakan bagian integral dengan konsep teknologi pendidikan menciptakan, menggunakan, dan mengelola. Fungsi-fungsi ini dapat dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan yang mungkin caried oleh orang yang berbeda pada waktu yang berbeda. mereka juga dapat dipandang sebagai tahapan proses pembangunan yang lebih besar instruksional. Advokat dari pendekatan sistem untuk pengembangan instruksional akan pergi lebih jauh untuk menentukan bahwa fungsi-fungsi ini disertai dengan proses evaluasi pada setiap tahap. Mengawasi keputusan dan tindakan korektif berbicara di setiap tahap adalah atribut penting dari pendekatan sistem. Contoh kegiatan evaluasi seperti yang disebutkan di bawah judul untuk menciptakan, menggunakan, dan mengelola di bawah ini.
Membuat dapat mencakup berbagai kegiatan, tergantung pada pendekatan desain yang digunakan. pendekatan Desain dapat berkembang dari pola pikir yang berbeda pengembang, estetika, ilmiah, teknik, psikologis, prosedural, atau sistemik, masing-masing yang dapat digunakan untuk memproduksi bahan yang diperlukan dan kondisi untuk belajar yang efektif.
Sebuah pendekatan sistem, misalnya, mungkin memerlukan prosedural untuk menganalisis masalah pembelajaran, merancang dan mengembangkan solusi, evaluasi dan revisi keputusan yang dibuat pada setiap langkah, dan kemudian menerapkan solusi.
Menggunakan. Elemen ini merujuk pada teori dan praktek releated untuk membawa peserta didik ke contaact dengan kondisi pembelajaran dan sumber daya. Dengan demikian, itu adalah Aksi Tengah, di mana solusi memenuhi masalah. Menggunakan dimulai dengan pemilihan proses yang sesuai dan metode sumber daya dan material.




GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Guru merupakan salah satu komponen situasi belajar. Keadaan guru dapat mempengaruhi hasil belajar. Guru melakukan pendorong dalam belajar. Oleh karena itu perlu diperhatikan keadaan guru berkaitan dengan kepribadian, kemampuan dan kondisi fisik maupun mental, sehingga  belajar akan dapat berlangsung dengan baik dan sampai pada tujuan yang ingin dicapai.

A. PERAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Peran guru dalam proses pembelajaran yang dapat membangkitkan aktivitas  siswa setidak-tidaknya menjelaskan tugas utama, berikut ini:
1. Merencanakan pembelajaran
Perencanaan yang dibuat merupakan antisipasi dan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran, sehingga tercipta suatu yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang dapat mengantar sisiwa mencapai tujuan yang diharapkan.
Perencanaan ini meliputi:
a. Tujuan apa yang hendak dicapai, yaitu bentuk-bentuk tingkah laku apa yang diinginkan dapat dicapai atau dapat memiliki oleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran.
b. Materi pembelajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan.
c. Bagaimana proses pembelajaran yang akan diciptakan oleh guru agar siswa mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
d. Bagaimana menciptakan dan menggunakan alat evaluasi untuk mengukur apakah tujuan itu tercapai dengan baik atau tidak.

2. Melaksanakan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran selayaknya berpegang pada apa yang tertuang dalam perencanaan.
a. Faktor guru
Gaya mengajar seorang guru terletak pada bagaimana pelaksanaan pembelajaran guru yang bersangkutan, yang dipengeruhi oleh pandangannya sendiri tentang mengajar, konsep-konsep psikologi yang digunakan, serta kurikulum yang dilaksanakan.
b. Faktor siswa
Adanya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ini dapat mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi  dalam proses pembelajaran.
c. faktor kurikulum
secara sederhana arti kurikulum dalam kajian ini menggambrkan pada isi atau pelajaran dan pola interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan tertentu.
d. Faktor lingkungan
Lingkunggan ini meliputi keadaan ruangan, tata ruang, dan berbagai situasi fisik yang ada di sekitar kelas atau sekitar tempat berlangsungnya proses pembelajaran
3. Mengevaluasi pelajaran
Fungsi evaluasi adalah untuk :
a. Mengetahui apakah siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b. Mengetahui kondisi belajar yang disiapkan, apakah dapat menyebabkan siswa belajar.
c. Mengetahui apakah prosedur pembelajaran berlangsung dengan baik.
d. Mengetahui di mana letak hambatan pencapaian tujuan tertentu.
4. Memberikan umpan balik
Upaya memberikan umpan balik harus dilakukan secara terus menerus. Dengan demikian, minat dan antusias siswa dalam belajar selalu terpelihara. Dengan terpeliharanya minat dan antusias belajar belajar siswa, diharapkan muncul keaktifan yang tinggi dalam proses belajar itu sendiri.

B. SIKAP GURU MEMBIMBING DAN MENGARAHKAN SISWA UNTUK BELAJAR
 Bimbingan yang diberikan dalam proses pembelajaran merupakan bantuan kepada siswa jika mengalami kesulitan dalam belajar, sehingga dia mampu mengatasi kesulitan tersebut.
1. Membimbing dan mengarahkan siswa sebelum proses pembelajaran,
2. Membimbing dan mengarahkan siswa membuat perencanaan kegiatan belajar,
3. Membimbing dan mengarahkan siswa mengikuti proses pembelajaran,
4. Membimbing dan mengarahkan siswa membuat catatan belajar, dan
5. Membimbing dan mengarahkan siswa untuk mempersiapkan ujian.

C. UPAYA GURU MEMOTIVASI SISWA UNTUK BELAJAR
 Banyak cara yang dilakukan oleh guru untuk memotivasi siswanya agar tetap semangat belajar dan berhasil dengan baik. Cara-cara tersebut anttara lain:
1. Memberikan motivasi belajar kepada siswa
2. Mengembangkan motivasi dan sikap semangat mengajar
3. Mengarahkan siswa kepada tujuan yang ingin dicapai
4. Membangkitkan minat belajar
5. Membimbing siswa mengatur waktu dan disiplin dalam belajar
6. Memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif
7. Menggunakan metode dan kegiatan pembelajaran yang bervariasi
8. Memberikan tugas yang menantang kepada siswa
9. Berinteraksi dan berkomunikasi aktif dengan siswa
10. Menciptakan  suasana kelas yang mendukung belajar
11. Mendorong siswa untuk belajar yang bermakna

D. KEGIATAN GURU DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN PROSES PEMBELAJARAN
 Proses pembelajaran seharusnya menekan pada metode atau cara bagaimana membelajarkan siswa secara aktif dari pada apa yang dipelajari siswa. Untuk memudahkan pelaksanaan, perumusan kegiatan belajar dapat dilakukan dengan cara:
a. Merumusakan semua kegiatan belajar yang membangkitkan untuk dilakukan
b. Menetapkan kegiatan-kegiatan man yang tidak perlu dilakukan agar mencapai efisiensi proses belajar
c. Menetapkan kegiatan-kegiatan mana yang akan dilakukan dalam mempelajari materi pembelajaran sesuai dengan upaya pencapaian tujaun.

“KUALITAS DAN CIRI-CIRI TEKNIK EVALUASI YANG BAIK”

C.Objektivitas
Objektivitas adalah kualitas yang menunjukkan identitas atau kesamaan dari skor-skor atau diagnosis-diagnosis yang diperoleh dari data yang sama dari penskor-penskor kompeten yang sama. Suatu norma memperlengkapi nilai rata-rata bagi suatu pengukuran atau diagnosis yang diperoleh dengan administrasi, suatu alat pengukuran untuk suatu populasi tertentu sehingga, dengan demikian, skor-skor atau pengukuran-pengukuran berikutnya bagi suatu individu atau kelompok dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang khas dari populasi normatif itu. Dalam pengertian sehari-hari telah diketahui bahwa objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhi. Lawan dari objektif adalah subjektif, artinya terdapat unsur pribadi yang mempengaruhi. Sebuah tes dikatakan memiliki objektifitas apabila dalam melaksanakannya tidak ada faktor subjektifitas yang mempengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas, maka objektifitas menekankan ketetapan/konsistensi pada scoring, sedangkan reliabilitas menekankan pada ketetapan dalam hasil tes. 
Ada 2 faktor yang mempengaruhi subjektifitas dari sesuatu tes, yaitu bentuk tes dan penilai.
a.Bentuk tes
Tes yang berbentuk uraian, akan memberikan banyak kemungkinan kepada si penilai untuk memberikan penilaian menurut caranya sendiri. Dengan demikian maka hasil dari seorang siswa yang mengerjakan soal-soal dari sebuah tes, akan dapat berbeda apabila dinilai oleh dua orang penilai. Untuk menghindari masuknya unsure subyektifitas dari penilai, maka system skoringnya dapat dilakukan dengan cara sebaik-baiknya, antara lain dengan membuat pedoman scoring terlebih dahulu.
b.Penilai
Subjektifitas dari penilai akan dapat masuk secara agak leluasa terutama dalam tes bentuk uraian. Faktor yang mempengaruhinya subjektifitas antara lain: kesan penilai terhadap siswa, tulisan, bahasa, waktu pengadaan penilaian, kelelahan, dan sebagainya. Untuk menghindari atau mengurangi subyektifitas dalam pekerjaan penilaian, maka penilaian ini harus dilaksanakan dengan mengingat pedoman. pedoman yang dimaksud terutama menyangkut masalah pengadministrasian, yaitu kontinuitas (berkesinambungan/terus-menerus) dan komprehensifitas.
1). Evaluasi harus dilakukan secara kontinuitas.
Dengan evaluasi yang dilakukan berkali-kali, maka guru akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keadaan siswa. Tes yang diadakan secara on the spot (mendadak/insidental) dan hanya satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan hasil yang objektif tentang keadaan seorang siswa. Faktor kebetulan, akan sangat mengganggu hasilnya. Sebagai contoh: seorang anak yang sebenarnya pandai, tetapi pada saat melakukan tes dalam kondisi tidak sehat, maka ada kemungkinan nilai tesnya menjadi tidak baik.
2). Evaluasi harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh),
Yang dimaksud dengan evaluasi yang komprehensif di sini adalah terdiri atas berbagai segi peninjauan, yaitu: mencakup keseluruhan materi, mencakup berbagai aspek berpikir (ingatan, pemahaman, aplikasi, dan sebagainya), dan melalui berbagai cara, yaitu: tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan, pengamatan incidental, dan sebagainya.
Objektivitas suatu tes ditentukan oleh tingkat atau kualitas kesamaan skor-skor yang diperoleh dengan tes tersebut meskipun hasik tes itu dinilai oleh beberapa orang penilai. Untuk ini diperlukan kunci jawaban tes (scoring key).
Kualitas objektivitas suatu tes dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu :
a.Objektivitas tinggi adalah jika hasil-hasil tes itu menunjukkan tingkat kesamaan yang tinggi. Contohnya : tes yang sudah distandardisasi, hasil penskorannya sangat objektif.
b.Objektivitas sedang adalah seperti tes yang sudah distandardisasi, tetapi pandangan subjektif skor masih mungkin muncul dalam penilaian dan interpretasinya.
c.Objektivitas fleksibel adalah seperti beberapa jenis tes yang digunakan oleh LBP (Lembaga Bimbingan dan Penyuluhan) untuk keperluan counseling, misalnya tes yang bersifat open end item open-end questionaires).

D. Kepraktisan
Kepraktisan (practicability) adalah suatu kualitas yang menunjukkan kemungkinan dapat dijalankannya suatu kegunaan umum dari suatu teknik penilaian, dengan mendasarkannya pada biaya, waktu yang diperlukan untuk menyusun, kemudahan penyusunan, mudahnya penskoran, dan mudahnya penginterpretasian hasil-hasilnya.
Kepraktisan suatu tes penting junga diperhatikan. Suatu tes dikatakan mempunyai kepraktisaan yang baik jika kemungkinan untuk menggunakan tes itu besar. Kriteria untuk mengukur praktis-tidaknya suatu tes dapat dilihat dari :
a.Maya yang diperlukan untuk menyelenggarakan tes itu,
b.Waktu yang diperlukan untuk menyusun tes itu,
c.Sukar-mudahnya menyusun tes itu,
d.Sukar-mudahnya menilai (scoring) hasil tes itu,
e.Sulit-tidaknya menginterpretasikan (mengolah) hasil tes itu,
f.Lamanya waktu yang diperlukan untuk melakanakan tes itu.
tentu saja menentukan ukuran yang tepat untuk criteria tersebut di atas itu sukar karena penentuan mahal-murah, lemah dan tidak, sukar dan mudah, itu relatif, bergantung pada dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.