Berita Terbaru :

Rabu, 10 April 2013

"GENERASI INSTAN"

http://radarlampung.co.id/read/images/stories/2010/05mei/10/xpresi.jpg

Perkembangan peradaban telah memudahkan seluruh aktifitas manusia, bahkan mereka dapat melakukan berbagai aktifitas yang dulu sangat mustahil secara bersamaan tanpa harus berpindah tempat. Dengan teknologi batasan ruang, waktu, dan sumber daya tidak lagi menjadi masalah penting. Fungsi manusia lambat laun mulai digantikan dengan fungsi mesin.  
Manusia cenderung menginginkan segala sesuatunya dilakukan secara cepat, serba instan. Kebiasaan instan ini secara perlahan-lahan menjadi sebuah budaya yang saat ini sudah demikian kuat tertanam dan tumbuh pada generasi kita.  
Menginginkan segala sesuatu serba cepat dan praktis, tanpa perlu bersusah payah, menjadi ciri kuat generasi sekarang. Padahal, kematangan kerja hanya bisa didapat melalui proses. Timbul kemudian masalah yakni :
1. Apa sebenarnya generasi instan itu.
2. Apa dampak buruknya.
3. Bagaimana cara meyakinkan seseorang itu bahwa keberhasilan itu bukan hal yang mudah.
Pertanyaan pertama akan saya bahas. Apa sebenarnya generasi instan itu. Istilah generasi instan ini muncul untuk memberi nama gejala yang berkembang di masyarakat perkotaan yang menginginkan segala sesuatu secara cepat dan praktis, tanpa mau bersusah payah. Mau minum kopi atau makan mi, tidak mau repot-repot menghidupkan kompor, memasak air, dan seterusnya. Software komputer, kamera, ponsel, dan segala macam peralatan teknologi tinggi lainnya telah dibuat sedemikian user friendly. Mengerjakan tugas tinggal ketik kata kunci di “Om Google”, setelah dapat sumber, buka sumber ujung-ujungnya copy dan paste.
Dalam hal ini generasi instan merupakan generasi yang selalu menginginkan sesuatu secara cepat, namun tidak tepat, cermat, dan menghargai proses. Generasi instan melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Generasi instan sama sekali tidak melihat dari efektifitas dan efesiensi,karena yang dilihat hanya hasilnya.
Nah, pertanyaan kedua mengenai dampak buruk dari perilaku tersebut yakni :
1.Siswa atau pelajar hanyaakan  mengukur keberhasilan dari hasilnya, bukan dari prosesnya
2.Tidak ingin mempelajari sesuatu secara menyeluruh dan sering menggeneralisasikan sesuatu.
3.Membenci tahapan-tahapan dalam melakukan sesuatu.
4.Sangat antusias dengan instilah-istilah  CARA CEPAT, CARA KILAT,KONSEP PRAKTIS dan tidak pernah memikirkan bagaimana bisa cepat, kilat, dan praktis.
5.Malas mempelajari core ilmu dan hanya senang menggunakan hasil kerja/temuan orang lain

Generasi Manja
Budaya instan yang intinya memanjakan manusia inilah yang barangkali ikut mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya generasi manja. Generasi manja inilah yang saat sekarang ini mulai meninggalkan bangku sekolah dan memasuki dunia kerja. 
Mereka tidak terbiasa bekerja keras. Mereka tidak dibiasakan untuk memahami suatu proses. Selain itu, aspirasi dan harapan seseorang memang sangat mungkin dipengaruhi oleh orang-orang lain di lingkungannya. Baik itu dalam lingkungan nyata, maupun lingkungan fiktif seperti yang ada dalam film, buku, atau majalah. Sayangnya film dan cerita-cerita yang beredar di masyarakat justru menyajikan tokoh-tokoh yang mencapai keberhasilan secara ekstra cepat, senada dengan proses instan. Sedikit sekali film yang menunjukkan seorang pegawai yang harus bekerja sangat keras untuk menapaki jalur karirnya. 
Kebanyakan film menunjukkan orang yang baru masuk kerja langsung sudah punya kursi direktur, ruang kerja pribadi punya mobil lengkap dengan sopir. Banyaknya contoh dari berbagai macam jenis profesi dan tokoh berhasil dalam profesi itu, telah memancing hasrat kaum muda khususnya bagi kaum intelektual untuk bisa menjadi seperti mereka. Apalagi seiring dengan keberhasilan mereka telah ditunjukkan pula semua atribut sampingan yang membuat orang kagum atau tergiur.

Tidak Mudah
Sekarang tentang pertanyaan ketiga, bagaimana menyakinkan mereka bahwa keberhasilan itu bukan hal yang mudah. Sebetulnya jawabannya sudah ada dalam pertanyaan itu sendiri. Keberhasilan bukanlah hal yang mudah. 
Walaupun tidak mudah, hal itu juga bukan mustahil, terutama bagi kita yang bukan produk budaya instan. Kita  sendiri baru berhasil menduduki posisi seperti sekarang setelah melalui perjalanan yang panjang. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah mengajak mereka mengenali proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah produk, apa pun produk itu. Bahkan kehadiran kopi atau mi instan adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. 
Mula-mula ada gagasan untuk memproduksi mi instan. Sesudah itu ada proses menyakinkan berbagai pihak untuk ikut mendukung gagasan itu. Lalu ada serangkaian penelitian untuk menghasilkan produknya. Setelah itu masih ada proses pemasaran, distribusi, dan lain sebagainya.
Kita harus mampu menunjukkan kepada mereka bahwa semua keluaran yang dihasilkan di universitas pun harus melalui serangkaian proses. Misalnya lahirnya seorang sarjana strata satu harus menempuh pendidikan minimal 4 tahun atau 8 semester. Mulanya harus ada perencanaan kuliah, ada jadwal kuliah, dan ada pula proses perkuliahan yang sangat perlu kita ikuti untuk menempuh gelar sarjana itu. Setelah menyadari bahwa segalanya perlu proses, mereka akan lebih mudah menyakini bahwa untuk mencapai posisi tertentu pun harus melalui sejumlah proses. 
Meskipun begitu, tidak semua orang perlu waktu sama panjang karena ada saja orang-orang yang mempunyai bakat lebih dari orang kebanyakan. Keberhasilan dalam menyakinkan mereka akan menjadi lebih mudah kalau Anda berhasil menunjukkan bahwa banyak hal yang tidak atau belum mereka kuasai dan harus dipelajari.Masih banyak ciri-ciri lain dari generasi instan yang belum disampaikan. Intinya generasi instan adalah generasi yang konsumtif, menginginkan segala sesatunya secara cepat tanpa perhitungan dan tidak menghargai proses.




Sumber Kajian :

Hartoto. Generasi Instan Tidak Menghargai Proses.
http://fatamorghana.wordpress.com/2009/09/24/generasi-instan-tidak-menghargai-proses/

Dewi Matindas. Budaya Instan Generasi Manja.
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/06/15401763/Budaya.Instan.Generasi.Manja.

Baca juga tulisan menarik lainnya

Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. Kepada semua blogger kat luar... contohilah post nie... walaupun simple.
    . tapi berisi...

    Here is my homepage :: Tips Pemasaran Facebook

    BalasHapus